Kontribusi Pemuda terhadap Upaya Pelestarian Penyu: Analisis Partisipasi di Desa Wiring Tasi, Kabupaten Pinrang
by Muh. Ismail, Muhammad Jufri ★
Academic editor: Naniek Widyaningrum
Kolaborasi Masyarakat 2(1): 1-7 (2026);
This article is licensed under the Creative Commons Attribution (CC BY) 4.0 International License.
29 Sep 2025
20 Nov 2025
19 Feb 2026
20 Feb 2026
Abstract: Sea turtles are endangered marine species facing increasing anthropogenic pressures in coastal areas, highlighting the need for local community involvement, particularly among young people, in conservation efforts. This study aims to analyze the forms of youth participation as well as the supporting and inhibiting factors influencing their involvement in sea turtle conservation at Lowita Beach, Wiring Tasi Village, Pinrang Regency. The study employed a descriptive qualitative approach, with data collected through field observations, semi-structured interviews, and document analysis involving six key informants directly engaged in conservation activities. Data were analyzed using thematic analysis. The results indicate that youth participation is manifested through contributions of ideas, labor, skills, provision of supporting facilities, and self-funded financial support. Such participation is supported by community environmental awareness, the presence of youth communities as collective platforms, and moral support from the village government. However, youth participation continues to face constraints, including limited resources, low motivation among some youth, coastal environmental pollution, and illegal sea turtle hunting practices. Theoretically, these findings underscore the role of youth as agents of change in community-based conservation. Practically, the study recommends strengthening institutional and policy support for youth communities to ensure the sustainability of sea turtle conservation in coastal areas.
Keywords: Partisipasi pemudaKonservasi penyuKonservasi berbasis komunitasMasyarakat pesisirPantai Lowita
Pendahuluan
Populasi penyu di dunia mengalami penurunan signifikan akibat degradasi habitat pesisir, eksploitasi berlebih, perdagangan ilegal, serta dampak perubahan iklim. Beberapa kajian menunjukkan tren negatif populasi di banyak wilayah peneluran, dan sebagian besar spesies tetap dikategorikan sebagai terancam atau rentan menurut IUCN Red List, meskipun tingkat penurunan spesifik berbeda antar spesies dan kawasan (1). Indonesia, sebagai salah satu kawasan peneluran penyu terpenting di dunia, menghadapi tantangan serius dalam upaya perlindungan satwa laut yang terancam punah ini (2).
Berdasarkan laporan lembaga konservasi internasional dan nasional, enam dari tujuh spesies penyu dunia ditemukan di perairan Indonesia, dan seluruhnya telah tercantum dalam IUCN Red List dengan status rentan (vulnerable), terancam punah (endangered), hingga kritis (critically endangered) (3, 4). Kondisi ini semakin mengkhawatirkan di Sulawesi Selatan, khususnya wilayah pesisir Kabupaten Pinrang, di mana aktivitas perikanan intensif, pengambilan pasir pantai, serta pariwisata yang belum terkelola secara berkelanjutan berkontribusi terhadap degradasi habitat peneluran penyu (5). Tanpa intervensi konservasi yang efektif dan berkelanjutan, berbagai kajian memproyeksikan terjadinya kepunahan lokal penyu dalam beberapa dekade mendatang, yang pada akhirnya akan mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir dan laut (6, 7).
Berbagai pendekatan konservasi telah diterapkan, baik melalui kebijakan pemerintah maupun inisiatif masyarakat sipil, seperti perlindungan lokasi peneluran, penangkaran semi-alami, pelepasan tukik, serta kampanye peningkatan kesadaran masyarakat (8, 9). Namun, efektivitas pendekatan tersebut masih bersifat parsial dan menghadapi sejumlah kendala struktural, antara lain keterbatasan pendanaan, lemahnya penegakan hukum, serta rendahnya partisipasi masyarakat lokal (10). Beberapa studi empiris menunjukkan bahwa intervensi konservasi berupa pengelolaan sarang semi-alami dan relokasi telur dapat meningkatkan hatching success rate tukik, dengan rata-rata mencapai 78,70% pada suatu lokasi di Kalimantan Barat (11), serta variasi antara 68,33% sampai 86,36% di lokasi lain (12). Rentang ini mencerminkan bahwa kondisi lingkungan dan manajemen sarang menjadi faktor penting dalam tingkat kelangsungan hidup tukik pasca penetasan.
Salah satu faktor kunci yang masih kurang mendapat perhatian dalam praktik konservasi adalah keterlibatan generasi muda. Padahal, pemuda memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan sosial yang berpotensi menjamin keberlanjutan jangka panjang program konservasi (13, 14). Minimnya partisipasi pemuda menunjukkan adanya kesenjangan antara strategi konservasi yang bersifat teknis-ekologis dengan dinamika sosial masyarakat pesisir. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan partisipatif yang mengintegrasikan pengetahuan ekologi dengan pemberdayaan masyarakat lokal, khususnya pemuda, sebagai aktor utama konservasi (15).
Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan tingkat partisipasi pemuda dalam upaya pelestarian penyu di Pantai Lowita, Desa Wiring Tasi, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat keterlibatan mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggali secara mendalam aspek sosial, budaya, dan kelembagaan yang memengaruhi partisipasi pemuda dalam konservasi penyu. Kebaruan penelitian ini terletak pada penekanan peran pemuda lokal sebagai agen penggerak konservasi berbasis komunitas, dengan mengaitkan praktik partisipasi nyata di tingkat lokal dan kerangka teoritis partisipasi masyarakat. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur konservasi berbasis masyarakat serta menjadi rujukan dalam pengembangan model konservasi penyu yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
Metodologi
Desain dan Rasional Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan deskriptif (16), yang bertujuan untuk memahami secara mendalam bentuk partisipasi pemuda, motivasi, serta hambatan yang mereka hadapi dalam upaya konservasi penyu. Pendekatan kualitatif deskriptif dipilih karena memungkinkan peneliti menggali makna, pengalaman subjektif, dan dinamika sosial yang tidak dapat dijelaskan secara kuantitatif, khususnya dalam konteks konservasi berbasis masyarakat. Desain ini sesuai untuk penelitian yang berfokus pada proses sosial, interaksi aktor, serta konteks budaya lokal yang memengaruhi praktik konservasi.
Lokasi dan Populasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Rumah Penyu Lowita, Pantai Lowita, Desa Wiring Tasi, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, dengan panjang garis pantai sekitar ±1 km. Lokasi ini dipilih secara purposif karena merupakan area peneluran penyu hijau (Chelonia mydas) serta memiliki inisiatif konservasi berbasis komunitas yang dikelola oleh pemuda. Populasi penelitian meliputi pemuda berusia 16–30 tahun sesuai dengan Undang-Undang Kepemudaan, serta informan pendukung yang berasal dari aparat desa dan masyarakat sekitar yang terlibat langsung dalam kegiatan konservasi.
Sampel dan Teknik Pemilihan Informan
Penentuan informan dilakukan menggunakan purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara sengaja berdasarkan pertimbangan relevansi dan kedalaman informasi yang dapat diberikan. Jumlah informan utama dalam penelitian ini adalah enam orang, yang terdiri atas satu aparat desa, empat pemuda yang aktif terlibat dalam kegiatan konservasi penyu, dan satu warga masyarakat sekitar lokasi konservasi. Jumlah ini dinilai memadai dalam penelitian kualitatif karena fokus penelitian bukan pada generalisasi statistik, melainkan pada kedalaman data dan pencapaian saturasi informasi, di mana tidak ditemukan lagi informasi substantif baru dari wawancara tambahan.
Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama. Pertama, observasi lapangan yang dilakukan di area peneluran, penangkaran, dan kegiatan komunitas untuk mendokumentasikan bentuk partisipasi pemuda, praktik konservasi, serta sarana pendukung. Kedua, wawancara semi-terstruktur yang dilakukan secara tatap muka kepada seluruh informan dengan durasi 45–90 menit, menggunakan panduan wawancara yang mencakup bentuk partisipasi pemuda, motivasi, hambatan, dan dukungan kelembagaan. Daftar pertanyaan wawancara disajikan sebagai supplemental material. Ketiga, analisis dokumen, yang meliputi arsip desa, laporan kegiatan konservasi, serta dokumentasi foto guna memperkuat temuan observasi dan wawancara.
Kerangka Analitis dan Analisis Data
Analisis data menggunakan analisis tematik, dengan kerangka analitis partisipasi masyarakat yang menekankan bentuk partisipasi (pikiran, tenaga, keterampilan, barang, dan uang) serta faktor pendukung dan penghambat partisipasi pemuda. Tahapan analisis meliputi: (i) transkripsi verbatim hasil wawancara, (ii) pengkodean terbuka untuk mengidentifikasi unit makna, (iii) pengelompokan kode ke dalam tema-tema utama, dan (iv) penyusunan narasi analitis yang mengaitkan temuan lapangan dengan kerangka teori partisipasi. Proses analisis dilakukan secara iteratif hingga diperoleh tema yang konsisten dan bermakna.
Validitas dan Keabsahan Data
Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan teknik, yaitu membandingkan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selain itu, dilakukan pengecekan ulang informasi kunci kepada informan (member check) untuk memastikan kesesuaian interpretasi peneliti dengan pengalaman informan.
Etika Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip etika penelitian sosial. Seluruh informan memberikan persetujuan secara sadar sebelum wawancara dilakukan, identitas informan dijaga kerahasiaannya, dan data yang diperoleh digunakan semata-mata untuk kepentingan akademik.
Hasil
Partisipasi Pemuda dalam Pelestarian Penyu di Pantai Lowita, Desa Wiring Tasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi pemuda dalam upaya pelestarian penyu di Pantai Lowita terwujud melalui pembentukan dan pengelolaan komunitas konservasi berbasis masyarakat yang dikenal sebagai Rumah Penyu Lowita. Komunitas ini diprakarsai oleh sekelompok pemuda lokal yang tergabung dalam kelompok Lima Putra Pesisir, yang secara aktif terlibat dalam berbagai aktivitas perlindungan penyu sejak tahun 2018 dan secara resmi diakui pada tahun 2019. Pembentukan komunitas tersebut dilatarbelakangi oleh kesadaran kolektif pemuda terhadap praktik perburuan penyu dan pengambilan telur penyu yang telah lama terjadi di masyarakat pesisir dan berdampak pada menurunnya populasi penyu di wilayah tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara dengan seluruh informan, diketahui bahwa keterlibatan pemuda dalam konservasi penyu tidak hanya bersifat simbolik, tetapi mencakup peran substantif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan keberlanjutan kegiatan konservasi. Pemuda berperan sebagai penggerak utama dalam perlindungan sarang peneluran, pengamanan telur dari predator alami maupun aktivitas manusia, pemeliharaan tukik di lokasi penangkaran, hingga kegiatan pelepasan tukik ke laut. Selain itu, pemuda juga berfungsi sebagai mediator antara komunitas konservasi dan masyarakat sekitar, khususnya dalam membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga keberlangsungan penyu sebagai bagian dari ekosistem pesisir.
Hasil penelitian juga mengungkap bahwa tantangan utama dalam pelaksanaan konservasi berasal dari dua faktor utama, yaitu faktor ekologis dan faktor sosial. Faktor ekologis mencakup ancaman predator alami seperti biawak dan anjing yang sering merusak sarang penyu. Sementara itu, faktor sosial terutama berkaitan dengan praktik perburuan penyu dan pengambilan telur oleh sebagian masyarakat yang masih memandang penyu sebagai sumber konsumsi dan komoditas ekonomi. Kondisi ini menuntut strategi konservasi yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis perlindungan penyu, tetapi juga pada pendekatan sosial yang adaptif dan persuasif.
Untuk merespons tantangan tersebut, pemuda di Rumah Penyu Lowita menerapkan pendekatan partisipatif berbasis komunikasi dan edukasi. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pemuda secara aktif membangun dialog dengan mantan pemburu penyu dan tokoh masyarakat, dengan cara mendengarkan pengalaman mereka, membangun kepercayaan, serta secara bertahap memperkenalkan perspektif konservasi. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan pendekatan represif, karena mampu mengurangi resistensi masyarakat dan membuka ruang kolaborasi dalam perlindungan penyu.
Selain pendekatan persuasif kepada masyarakat, pemuda juga mengembangkan strategi internal untuk memperluas partisipasi generasi muda. Salah satu strategi yang menonjol adalah penyediaan ruang partisipasi yang fleksibel dan inklusif dengan memanfaatkan minat dan hobi pemuda, seperti fotografi, penyelaman, dan produksi konten media sosial. Kegiatan konservasi tidak hanya diposisikan sebagai aktivitas lingkungan, tetapi juga sebagai ruang ekspresi dan aktualisasi diri bagi pemuda. Strategi ini terbukti mampu meningkatkan keterlibatan pemuda secara berkelanjutan serta memperkuat ikatan sosial di dalam komunitas.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi pemuda dalam pelestarian penyu di Pantai Lowita bersifat aktif, berlapis, dan kontekstual. Keterlibatan pemuda tidak hanya terbatas pada peran teknis sebagai pelaksana konservasi, tetapi juga mencakup peran strategis dalam membangun komunikasi sosial, edukasi masyarakat, dan penguatan kelembagaan komunitas. Pola partisipasi yang terorganisasi dan berkelanjutan ini menunjukkan adanya pembagian peran yang jelas di dalam komunitas, sehingga pemuda berfungsi sebagai agen perubahan sosial yang mampu mengintegrasikan kepentingan konservasi dengan dinamika masyarakat pesisir. Dengan demikian, partisipasi pemuda di Pantai Lowita dapat dikategorikan sebagai partisipasi aktif dan transformatif.
Faktor yang Mendukung dan Menghambat Partisipasi Pemuda dalam Upaya Pelestarian Penyu di Pantai Lowita, Desa Wiring Tasi
Keberhasilan partisipasi pemuda dalam upaya pelestarian penyu di Pantai Lowita dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang saling berinteraksi. Faktor internal berkaitan dengan kapasitas, komitmen, dan motivasi pemuda sebagai aktor utama konservasi, sedangkan faktor eksternal mencakup dukungan kelembagaan, kondisi sosial masyarakat, serta keterbatasan struktural yang dihadapi di tingkat desa.
Dari sisi faktor pendukung internal, kontribusi pemuda dalam komunitas Rumah Penyu Lowita menjadi modal utama keberlanjutan kegiatan konservasi. Pemuda secara sukarela memberikan tenaga, waktu, gagasan, serta sumber daya pribadi untuk mendukung perlindungan sarang penyu, pengelolaan tukik, dan patroli pantai. Kontribusi ini juga tercermin dalam upaya merekrut mantan pemburu penyu untuk dialihfungsikan sebagai ranger konservasi, yang menunjukkan adanya transformasi peran sosial melalui pendekatan partisipatif. Temuan ini mengindikasikan bahwa partisipasi pemuda tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup aspek pengorbanan material dan komitmen jangka panjang.
Selain kontribusi langsung, peran strategis pemuda sebagai agen perubahan menjadi faktor pendukung yang signifikan. Pemuda dipandang memiliki energi, semangat, serta kepedulian yang lebih tinggi terhadap isu lingkungan dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pemuda menyadari dampak jangka panjang dari kepunahan penyu terhadap keseimbangan ekosistem laut dan ketersediaan sumber daya ikan. Kesadaran ini mendorong pemuda untuk terus melibatkan diri dalam kegiatan konservasi, meskipun hasilnya belum dapat dirasakan secara langsung dalam jangka pendek.
Faktor pendukung lainnya adalah strategi inspirasi dan motivasi yang dikembangkan oleh komunitas melalui pemanfaatan media sosial. Publikasi kegiatan konservasi melalui platform digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana dokumentasi, tetapi juga sebagai alat membangun kebanggaan kolektif dan menarik minat pemuda lain untuk bergabung. Kolaborasi dengan berbagai pihak serta eksposur di media nasional dan internasional memperkuat legitimasi gerakan konservasi yang dipelopori pemuda, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri dan identitas kolektif komunitas.
Di sisi lain, penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah faktor penghambat partisipasi pemuda. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan dukungan finansial dan kelembagaan dari pemerintah desa. Dukungan pemerintah masih bersifat moral dan partisipatif dalam kegiatan tertentu, namun belum diiringi dengan alokasi anggaran khusus untuk konservasi penyu. Kondisi ini membatasi kapasitas komunitas dalam mengembangkan sarana prasarana pendukung serta memperluas jangkauan program konservasi.
Faktor penghambat lain berasal dari kondisi sosial masyarakat, khususnya rendahnya kesadaran sebagian warga terhadap pentingnya pelestarian lingkungan pesisir. Praktik pembuangan sampah ke laut dan pandangan bahwa konservasi penyu tidak memberikan manfaat ekonomi langsung menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan program. Situasi ini menunjukkan bahwa partisipasi pemuda masih berhadapan dengan struktur sosial dan kebiasaan lama yang sulit diubah dalam waktu singkat.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menegaskan bahwa partisipasi pemuda dalam pelestarian penyu di Pantai Lowita dipengaruhi oleh keseimbangan antara kekuatan internal komunitas dan keterbatasan eksternal yang ada. Keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh semangat dan kontribusi pemuda, tetapi juga sangat bergantung pada dukungan kebijakan, penguatan kelembagaan, serta perubahan perilaku masyarakat secara lebih luas.
Secara analitis, temuan mengenai faktor pendukung dan penghambat partisipasi pemuda menunjukkan adanya interaksi antara kekuatan internal komunitas dan tekanan eksternal yang bersumber dari struktur sosial serta kelembagaan di tingkat lokal. Temuan tersebut kemudian dirangkum dan disistematisasi dalam bentuk analisis faktor internal dan eksternal sebagaimana disajikan pada Tabel 1.
Pembahasan
Pembahasan ini diarahkan untuk menautkan temuan empiris penelitian dengan kerangka teori partisipasi dan konservasi yang telah dikemukakan sebelumnya. Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian tidak hanya dipahami sebagai deskripsi fenomena lokal, tetapi juga sebagai ilustrasi empiris bagaimana konsep partisipasi pemuda bekerja dalam konteks konservasi berbasis masyarakat di wilayah pesisir.
Partisipasi Pemuda dalam Upaya Pelestarian Penyu di Pantai Lowita, Desa Wiring Tasi
Partisipasi pemuda merupakan elemen kunci dalam upaya konservasi penyu melalui peningkatan kesadaran lingkungan dan keterlibatan masyarakat pesisir (17). Kesadaran atas kondisi ini mendorong terbentuknya komunitas Lima Putra Pesisir dengan pusat kegiatan konservasi yang dikenal sebagai Rumah Penyu Lowita di Desa Wiring Tasi, Kabupaten Pinrang. Berdasarkan klasifikasi Hamijoyo, partisipasi pemuda dalam komunitas ini dapat dikategorikan ke dalam lima bentuk, yaitu partisipasi pikiran, tenaga, keterampilan, barang, dan uang (18).
Kategori | Faktor | Uraian Temuan |
Internal (Strengths) | Kontribusi pemuda | Pemuda menyumbangkan tenaga, waktu, pemikiran, dan materi secara sukarela dalam kegiatan konservasi |
Peran strategis pemuda | Pemuda berfungsi sebagai agen perubahan dan motor penggerak konservasi berbasis komunitas | |
Motivasi dan kesadaran ekologis | Kesadaran akan dampak jangka panjang kepunahan penyu terhadap ekosistem laut | |
Internal (Weaknesses) | Keterbatasan sumber daya | Ketergantungan pada dana swadaya dan kontribusi pribadi anggota |
External (Opportunities) | Dukungan moral pemerintah | Pengakuan dan legitimasi terhadap kegiatan konservasi pemuda |
Media sosial dan jejaring | Pemanfaatan media digital untuk inspirasi, promosi, dan kolaborasi | |
External (Threats) | Minimnya dukungan anggaran | Tidak adanya alokasi dana desa khusus untuk konservasi penyu |
Rendahnya kesadaran masyarakat | Praktik pembuangan sampah dan pandangan utilitarian terhadap penyu |
Partisipasi Pikiran
Partisipasi pikiran merupakan bentuk keterlibatan yang diwujudkan melalui sumbangan gagasan, pengetahuan, dan pengalaman individu dalam merencanakan serta mengembangkan kegiatan bersama. Partisipasi pikiran yang dilakukan oleh komunitas Lima Putra Pesisir dalam pelestarian penyu tercermin dalam perumusan berbagai program berbasis edukasi dan penyadaran. Pemuda berperan aktif dalam merancang kegiatan sosialisasi mengenai pentingnya pelestarian penyu kepada masyarakat dan calon ranger, menyelenggarakan seminar dan diskusi edukatif bagi pemuda di sekitar lokasi konservasi, serta mengembangkan ide-ide kreatif untuk menarik minat generasi muda agar terlibat dalam kegiatan konservasi. Selain itu, pemuda juga menyumbangkan gagasan dalam pencarian dukungan donasi guna mendukung keberlanjutan program komunitas serta dalam pengelolaan media sosial sebagai sarana penyebaran informasi dan edukasi konservasi penyu. Bentuk partisipasi berbasis gagasan dan pengetahuan tersebut sejalan dengan temuan Mutmainnah et al. (2025) yang menekankan pentingnya edukasi lingkungan dan kolaborasi masyarakat dalam mendukung upaya konservasi penyu (17).
Partisipasi Tenaga
Partisipasi tenaga merupakan bentuk keterlibatan yang diwujudkan melalui sumbangan tenaga fisik dalam pelaksanaan berbagai kegiatan yang menunjang keberhasilan suatu program konservasi (19). Berdasarkan hasil penelitian, partisipasi tenaga yang dilakukan oleh komunitas Lima Putra Pesisir dalam pelestarian penyu mencakup keterlibatan langsung dalam pembangunan dan pengelolaan fasilitas konservasi, seperti pembuatan lokasi kegiatan komunitas dan inkubator alami untuk penetasan telur penyu. Pemuda juga terlibat dalam pencarian dan pemindahan telur penyu di pesisir, pembersihan habitat penyu, serta pengawasan proses penetasan dan perawatan tukik hingga siap dilepaskan ke laut. Selain itu, pemuda berpartisipasi dalam kegiatan penanaman mangrove sebagai upaya perbaikan habitat pesisir dan terlibat dalam perawatan penyu yang terluka atau sakit hingga kondisi memungkinkan untuk dilepaskan kembali ke habitat alaminya. Bentuk partisipasi tenaga tersebut sejalan dengan temuan Praptiwi et al. (2023) yang menekankan pentingnya keterlibatan langsung pemuda dalam kegiatan teknis konservasi penyu berbasis komunitas (20).
Partisipasi Keterampilan
Partisipasi keterampilan merupakan bentuk keterlibatan masyarakat yang diwujudkan melalui pemberian dan pengembangan kemampuan individu untuk mendukung pelaksanaan kegiatan bersama, khususnya dalam upaya pelestarian lingkungan. Bentuk partisipasi ini berkontribusi terhadap penguatan peran komunitas dalam implementasi program konservasi berbasis masyarakat (21). Berdasarkan hasil penelitian, partisipasi keterampilan yang dilakukan oleh komunitas Lima Putra Pesisir dalam pelestarian penyu mencakup beberapa aspek utama. Pertama, pemuda mengembangkan keterampilan teknis dalam kegiatan konservasi penyu, seperti merawat penyu yang terluka atau sakit, merawat tukik, serta membangun inkubator alami untuk telur penyu. Keterampilan ini berperan penting dalam membantu pemuda memahami kebutuhan biologis penyu dan mendukung perancangan strategi pelestarian yang lebih tepat sesuai kondisi lapangan. Kedua, pemuda mengembangkan keterampilan komunikasi yang digunakan dalam kegiatan sosialisasi kepada masyarakat pesisir mengenai pentingnya konservasi penyu, sekaligus dalam menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dan instansi terkait. Keterampilan komunikasi ini berkontribusi pada peningkatan kesadaran masyarakat serta penguatan jejaring kelembagaan dalam upaya konservasi. Ketiga, pemuda mengembangkan keterampilan publikasi melalui kreativitas dalam mempromosikan kegiatan konservasi penyu kepada masyarakat luas dengan memanfaatkan media sosial, seperti Instagram dan YouTube, serta melalui pembuatan dan pengeditan poster dan dokumentasi visual. Penguatan keterampilan publikasi dan pemanfaatan teknologi informasi tersebut sejalan dengan temuan Indrabayu et al. (2018) yang menekankan pentingnya peningkatan kapasitas publikasi dan pengelolaan informasi bagi komunitas konservasi penyu (22).
Partisipasi Barang
Partisipasi barang merupakan salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam konservasi yang mencakup dukungan nyata melalui penyediaan barang atau sarana prasarana yang menunjang pelaksanaan kegiatan di lapangan, sebagaimana dijelaskan dalam studi yang menekankan pentingnya keterlibatan komunitas lokal dalam berbagai aktivitas konservasi di sekitar kawasan lindung (23). Partisipasi barang yang dilakukan oleh komunitas Lima Putra Pesisir diwujudkan melalui beberapa bentuk kontribusi. Pemuda menyumbangkan atau membeli peralatan lapangan yang digunakan dalam kegiatan pemantauan dan perlindungan penyu di pantai peneluran, seperti alat pengukur suhu, termometer, pelampung, dan baju renang. Selain itu, pemuda juga menyediakan material konstruksi berupa kawat berduri, bambu, kayu, dan bahan lain untuk membangun pagar atau struktur pelindung sarang penyu. Kontribusi lainnya mencakup penyediaan sarana transportasi operasional, seperti sepeda motor dan perahu, yang digunakan untuk patroli pantai dan pengawasan area penangkaran penyu. Pemuda juga menyumbangkan atau membeli bahan edukasi dan informasi, seperti buku, pamflet, spanduk, dan poster, untuk mendukung kegiatan penyadaran masyarakat, serta menyediakan bahan perawatan sederhana bagi penyu, seperti obat-obatan, salep, dan perlengkapan medis dasar. Bentuk partisipasi barang tersebut sejalan dengan temuan penelitian lain yang menekankan pentingnya dukungan sarana dan prasarana dalam pengelolaan konservasi penyu berbasis masyarakat (24, 25).
Partisipasi Uang
Partisipasi uang merupakan bentuk keterlibatan yang bertujuan mendukung kelancaran kegiatan konservasi melalui kontribusi finansial dari anggota dan pihak luar, sejalan dengan studi yang menempatkan dukungan finansial masyarakat sebagai salah satu mekanisme partisipasi dalam upaya pengelolaan sumber daya atau layanan lingkungan (26). Dalam komunitas Lima Putra Pesisir, partisipasi ini diwujudkan melalui pengumpulan dana swadaya dari anggota yang bersifat sukarela dan tidak mengikat, serta dukungan dana dari pihak luar melalui skema adopsi sarang telur penyu.
Secara keseluruhan, pemuda Desa Wiring Tasi menunjukkan keterlibatan komprehensif dalam pelestarian penyu melalui sumbangan pikiran, tenaga, keterampilan, barang, dan dana. Keterlibatan ini tidak hanya memperkuat keberlanjutan program konservasi, tetapi juga memperlihatkan peran strategis generasi muda sebagai motor penggerak dalam menjaga ekosistem pesisir.
Faktor yang Mendukung dan Menghambat Partisipasi Pemuda dalam Upaya Pelestarian Penyu di Pantai Lowita, Desa Wiring Tasi
Partisipasi pemuda dalam pelestarian penyu di Pantai Lowita didukung oleh beberapa faktor penting, antara lain kesadaran masyarakat yang tinggi, dukungan pemerintah dan instansi terkait, keberadaan komunitas Lima Putra Pesisir sebagai wadah keterlibatan, serta adanya pengakuan dan apresiasi atas kontribusi pemuda (27). Faktor-faktor ini mendorong motivasi dan meningkatkan rasa tanggung jawab generasi muda dalam menjaga kelestarian penyu (20).
Namun demikian, partisipasi pemuda juga menghadapi sejumlah kendala, seperti rendahnya motivasi sebagian pemuda, keterbatasan sumber daya finansial maupun sarana, serta padatnya tuntutan pendidikan dan pekerjaan. Di samping itu, perubahan iklim, pencemaran habitat pesisir, dan praktik perburuan serta perdagangan ilegal penyu menjadi hambatan eksternal yang signifikan. Dengan demikian, keberhasilan pelestarian penyu sangat bergantung pada penguatan faktor pendukung serta upaya mengatasi hambatan yang ada.
Secara ilmiah, penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian partisipasi pemuda pada konteks konservasi sumber daya pesisir dengan menampilkan model partisipasi berbasis komunitas lokal. Berbeda dari studi sebelumnya yang lebih menekankan peran institusi formal atau pemerintah, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pemuda lokal dapat berperan sebagai penggerak utama konservasi melalui kombinasi modal sosial, pendekatan persuasif, dan kreativitas berbasis minat generasi muda.
Dari sisi praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa program konservasi penyu di wilayah pesisir perlu dirancang dengan menempatkan pemuda sebagai aktor sentral. Pendekatan yang adaptif, berbasis dialog, serta pemanfaatan media sosial terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi dan mengurangi resistensi masyarakat. Oleh karena itu, penguatan dukungan kebijakan dan kelembagaan terhadap komunitas pemuda menjadi langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan konservasi penyu di Pantai Lowita dan wilayah pesisir lainnya.
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa partisipasi pemuda di Desa Wiring Tasi memainkan peran strategis dalam pelestarian penyu di Pantai Lowita melalui kontribusi gagasan, tenaga, keterampilan, sumbangan barang, dan dukungan dana. Temuan ini menunjukkan bahwa pemuda tidak hanya terlibat sebagai pelaksana kegiatan konservasi, tetapi juga sebagai agen perubahan yang menggerakkan konservasi penyu berbasis komunitas, sejalan dengan teori partisipasi masyarakat yang menekankan keterlibatan aktif aktor lokal. Keberlanjutan upaya konservasi dipengaruhi oleh interaksi antara faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukung meliputi meningkatnya kesadaran lingkungan masyarakat, keberadaan komunitas pemuda sebagai wadah partisipasi kolektif, serta dukungan moral dari pemerintah desa. Sebaliknya, keterbatasan sumber daya, rendahnya motivasi sebagian pemuda, pencemaran lingkungan pesisir, dan praktik perburuan ilegal masih menjadi tantangan utama yang membatasi efektivitas konservasi.
Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap kajian konservasi berbasis masyarakat dengan menegaskan posisi pemuda lokal sebagai aktor kunci dalam pengelolaan sumber daya pesisir. Dari sisi praktis, penelitian ini merekomendasikan penguatan dukungan kebijakan dan kelembagaan terhadap komunitas pemuda, integrasi program konservasi dengan edukasi lingkungan, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana peningkatan partisipasi dan kesadaran publik. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada cakupan lokasi yang terbatas pada satu desa dan jumlah informan yang relatif kecil, sehingga temuan belum dapat digeneralisasikan secara luas. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk melibatkan wilayah pesisir lain dengan karakteristik sosial yang berbeda serta menggunakan pendekatan metodologis campuran guna memperkaya pemahaman mengenai peran pemuda dalam konservasi penyu.
Declarations
Ethics Statement
Ethical approval was not required for this study.
Supplemental Material
The supplemental material can be found at the link: https://etflin.com/file/document/202602101016051546256473.pdf
Data Availability
The unpublished data is available upon request to the corresponding author.
Funding Information
The authors declare that no financial support was received for the research, authorship, and/or publication of this article.
Conflict of Interest
The authors declare no conflicting interest.
References
- Hays GC, Laloë JO, Seminoff JA. Status, trends and conservation of global sea turtle populations. Nat Rev Biodivers. 2025;1(2):119–33.
- Selmen D, Ashibly A, Fitri SN. Peran Hukum Nasional Dan Internasional Dalam Konservasi Penyu Sebagai Satwa Liar Yang Dilindungi Di Indonesia. Tanjungpura Law J. 2025 Jan 23;9(1).
- Wulandari R, Ardiyansyah, Edrial, Muslim, Kurniawansyah H. Analisis Implementasi Kebijakan Konservasi Penyu (Studi Di Desa Emang Lestari Kecamatan Lunyuk Kabupaten Sumbawa). Indones J Soc Sci Humanit. 2020;1(3):190–198.
- Sadili D di, Adnyana LW, Suprapti D, Rmintohadi S, Ramli I, Harfiandri, et al. Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu. Jakarta: Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan; 2015.
- Aprilia M, Rajab MA. Analisis Kesesuaian Habitat Sarang Semi Alami Peneluran Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di UPTD Kpsdkp Sumatera Barat. J Pesisir Dan Laut Trop. 2025 Feb 24;13(1):40–51.
- Harnino TZAE, Parawangsa INY, Sari LA, Arsad S. Effectiveness of Sea Turtle Conservation Management at the Turtle Conservation and Education Center of Serangan, Denpasar Bali. J Mar Coast Sci. 2021;10(1):18–34.
- Siti Arieta, Meilanny Budiarti, Teguh Setiandika Igiasi. Tanggungjawab Sosial Perusahaan Di Bidang Lingkungan Hidup: Konservasi Penyu Di Kabupaten Kepulauan Anambas Indonesia. J Manag Soc Sci. 2023 Jan 25;2(1):73–90.
- Falih NZ, Inayah NF, Indirayani SL, Saputri SA. Upaya Konservasi Penyu Di Indonesia Sebagai Penyelamat Dari Ancaman Kepunahan. Enviro J Trop Environ Res. 2025 Apr 24;27(1):49.
- Will Helmina LR. Upaya Konservasi Penyu sebagai Penyelamat dari Ancaman Kepunahan dalam Perspektif Islam. Es-SyajarJournal Islam Sci Technol Integr. 2024 Mar 23;2(1):153–9.
- Maria Efrati Ujul, Sri Haryanti Prasetiyowati, Primanda Kiky Widyaputra, Heny Budi Setyorini. Pengelolaan Konservasi Penyu Di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. J Rekayasa Lingkung. 2024 Apr 30;24(1):49–56.
- Iswanto I, Agam B. The success rate of hatching green turtles with semi-natural incubation systems in the marine rides of Paloh district. J Fish Mar Appl Sci. 2024 Feb 1;2(1):1–12.
- Nyompa AH, Sulaeman HA, Masykur SF, Bahri M, Ayustina R. Hatching success rate of sea turtle in the north coast of Pinrang Regency, South Sulawesi. J Earth Kingdom. 2024 Jul 31;2(1):36–50.
- Sofian Syukur, Saryono Yohanes, Herinimus Ratu Udju. Partisipasi Masyarakat Dalam Konservasi Penyu (Chelonioidea) di Desa Riabao dan Desa Duawutun Kecamatan Nagawutung Kabupaten Lembata. Parlem J Stud Huk dan Adm Publik. 2024 Dec 8;1(4):235–45.
- Putriani RB, Lubis ON, Fathan NH, Maharani DD, Pambudi NN, Savira KW, et al. Status Konservasi Berbagai Spesies Penyu Laut Di Indonesia: Studi Literatur. Samakia J Ilmu Perikan. 2025 May 4;16(1):87–95.
- Ilham I, Ernaningsih D, Patanda M. Strategi Pelestarian Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Suaka Margasatwa Sindangkerte, Tasikmalaya. J Ilm Satya Minabahari. 2023 Jun 18;8(2):43–55.
- Creswell JW. Research Design: Qualitative, Quantitative and Mixed Methods Approaches. 4th ed. Thousand Oaks (CA): Sage; 2014.
- Mutmainnah M, Kaidati B, Yuliana Y, Putri S, Ilyas AM, Muksin D, et al. Edukasi Lingkungan Untuk Konservasi Penyu: Kolaborasi Akademisi Dan Masyarakat Pesisir Tobololo, Kota Ternate. J Pengabdi Masy Kauniah. 2025;3(2):20–9.
- Jatmiko YA. Pengaruh Karakterisitik Masyarakat Terhadap Partisipasi Pemeliharaan Saluran Lingkungan di Desa Bandungrejo, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. J Pembang Wil dan Kota. 2017;13(2):257–68.
- Uceng A, Ali A, Mustanir A, Nirmawati N. Analisis Tingkat Partisipasi Masyarakat Terhadap Pembangunan Sumber Daya Manusia Di Desa Cemba Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang. Moderat J Ilm Ilmu Pemerintah. 2019;5(2).
- Praptiwi RA, Subroto DCJ, Idrus MI, Datu D, Putra ACG, Salsabila AA, et al. Peningkatan Kapasitas Pemuda Desa Barugaia Dalam Teknik Dasar Konservasi Penyu Laut dan Pengelolaan Wilayah Kampung Penyu, Kabupaten Kepulauan Selayar. J Pengabdi Masy AbdiMas. 2023 Jun 21;9(05).
- Syamsiyah N, Sadeli AH, Saidah Z, Noor TI, Widiyanesti S. Community Participation in the Development of Sustainable, Environmentally Conscious Villages in the Cirasea Sub-Watershed, Indonesia. Sustainability. 2025 May 26;17(11):4871.
- Indrabayu, Areni IS, Nurtanio I, Ilham AA, Yohannes C. Peningkatan Kapasitas KeterampilanTeknologi Informasi Bagi Pengelola Komunitas Sahabat Penyu. J Teknol Terap untuk Pengabdi Masy. 2018;1(2):99–104.
- Htay T, Htoo KK, Mbise FP, Røskaft E. Factors Influencing Communities’ Attitudes and Participation in Protected Area Conservation: A Case Study from Northern Myanmar. Soc Nat Resour. 2022 Mar 4;35(3):301–19.
- Oktavianti L, Pamungkas W, MS Y, Yuliadi LPS. Evaluation Of The Sustainability Of Turtle Conservation Area Management On The Coast Of Pangandaran, West Java. J Kelaut. 2025;18(2):138–52.
- Setyaningrum A, Widyaputra PK, Masduqi E, Prasetiyowati SH, Setyorini HB. Program Bersih Pantai Untuk Mendukung Konservasi Penyu Di Pantai Samas. J Masy Green Technol. 2023;1(1):1–7.
- Maleknia R. Psychological determinants of citizens’ willingness to pay for ecosystem services in urban forests. Glob Ecol Conserv. 2024 Oct;54:e03052.
- Bulan Suci Ramadhani. Peran Pemuda dalam Pengembangan Wisata Pantai Lowita di Kabupaten Pinrang, Kasus: Pemanfaatan Media Sosial. TOBA J Tour Hosp Destin. 2022 Nov 30;1(4):169–74.
ETFLIN
Notification






