Share The Article

Hey there! If you're enjoying the article you're reading, why not share it with your friends and spread the knowledge? Let's make sure everyone gets a chance to benefit from this great read!

You can also tag us on social media and we would be happy to re-post it. Here are our social media accounts:

Instagram: @etflin
Twitter: @Etflin1
Facebook: Etflin

Cite The Article

Export the citation:




Citation
ACS Style

Rusdi, B.F. Kolaborasi ICRAF dan Masyarakat melalui Proyek Land4Lives untuk Mendorong Pembangunan Berkelanjutan di Sulawesi Selatan. Kolaborasi Masyarakat 2025, 1(2), 58-64.

AMA Style

Rusdi, BF. Kolaborasi ICRAF dan Masyarakat melalui Proyek Land4Lives untuk Mendorong Pembangunan Berkelanjutan di Sulawesi Selatan. Kolaborasi Masyarakat. 2025; 1(2):58-64.

Chicago Style

Besse Fadhilah Rusdi. 2025. "Kolaborasi ICRAF dan Masyarakat melalui Proyek Land4Lives untuk Mendorong Pembangunan Berkelanjutan di Sulawesi Selatan" Kolaborasi Masyarakat 1, no. 2:58-64.

Tools

Font

The Article's Metrics

AI Dimensions Metrics


PlumX Metrics by Elsevier

Kolaborasi ICRAF dan Masyarakat melalui Proyek Land4Lives untuk Mendorong Pembangunan Berkelanjutan di Sulawesi Selatan

Article Access

Views: 183
Downloads: 7

Corresponding Author

Affiliation

Contribution

ORCID


Check the author works here


Reference



Check the reference here


Latest Articles from Kolaborasi Masyarakat

Table of Contents

(clickable & vertically scrollable)

Home / Kolaborasi Masyarakat / Volume 1 Issue 2 / 10.58920/kolmas0102481

Kolaborasi ICRAF dan Masyarakat melalui Proyek Land4Lives untuk Mendorong Pembangunan Berkelanjutan di Sulawesi Selatan

by Besse Fadhilah Rusdi

Academic editor: Hamdi Sarimaryoni
Kolaborasi Masyarakat 1(2): 58-64 (2025); https://doi.org/10.58920/kolmas0102481
This article is licensed under the Creative Commons Attribution (CC BY) 4.0 International License.


Received
06 Oct 2025
Revised
20 Nov 2025
Accepted
09 Dec 2025
Published
15 Dec 2025

Abstract: This study aims to analyze the implementation of sustainable development values by the World Agroforestry Centre (ICRAF) through the Land4Lives project in South Sulawesi. The research focuses on examining ICRAF’s roles as an implementer, catalyst, and partner, as well as the impacts experienced by the community in Pakkasalo Village, Bone Regency. The research method used is descriptive qualitative, with primary data obtained through interviews with ICRAF staff and local community members, and secondary data collected from documents, journals, and reports. The results indicate that ICRAF acts as an implementer through the Land4Lives program, the Young Landscape Researchers Incubator (IPML), village-level food and nutrition security campaign initiatives, and the siALAM website service. As a catalyst, ICRAF fosters innovation through LUMENS and various innovative financing schemes. As a partner, ICRAF collaborates with local governments in assisting the preparation of Green Economic Growth Master Plans. The impacts experienced by the community of Pakkasalo Village include enhanced climate adaptation capacity through land management programs and strengthened food security. Overall, this study highlights the importance of synergy between international NGOs, local governments, and communities in achieving sustainable development.

Keywords: Kolaborasi masyarakatICRAFProyek Land4Lives


Pendahuluan

Perubahan iklim merupakan salah satu tantangan global terbesar abad ini karena berdampak langsung pada sistem ekologi, sosial, dan ekonomi (1). Indonesia, sebagai negara dengan hutan tropis terluas keempat di dunia, menghadapi ancaman serius akibat deforestasi dan degradasi lingkungan yang mempercepat pelepasan emisi gas rumah kaca (2). Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa luas hutan Indonesia kini hanya sekitar 94,1 juta hektar, atau 50% dari daratan nasional (3). Penurunan tutupan hutan tersebut tidak hanya mengurangi keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu bencana ekologis seperti kekeringan, banjir, dan tanah longsor, terutama di wilayah Sulawesi Selatan yang tercatat mengalami deforestasi signifikan dan rentan terhadap perubahan iklim ekstrem (4).

Upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim telah dilakukan melalui berbagai kebijakan dan program, baik di tingkat nasional maupun internasional. Misalnya, Indonesia telah mengimplementasikan mekanisme REDD+ sebagai strategi pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Namun, meskipun program-program tersebut memiliki dampak positif, implementasinya kerap menghadapi tantangan berupa keterbatasan akses, koordinasi lintas aktor, serta rendahnya kapasitas adaptif masyarakat rentan. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memperkuat model intervensi yang tidak hanya menitikberatkan pada pengurangan emisi, tetapi juga pada peningkatan ketahanan sosial-ekonomi masyarakat di daerah terdampak (5).

Indonesia telah menjalin kolaborasi internasional melalui proyek Sustainable Landscapes for Climate-Resilient Livelihoods (Land4Lives) yang didukung oleh Pemerintah Kanada (6). Pada konteks ini, International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) melalui proyek Land4Lives hadir sebagai pendekatan inovatif yang mengintegrasikan dimensi ekologi, sosial, dan ekonomi. Proyek ini sekaligus selaras dengan agenda Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam pembangunan ekonomi hijau yang berfokus pada peningkatan ketahanan iklim, perluasan mata pencaharian, serta penguatan tata kelola sumber daya lahan secara berkelanjutan. ICRAF berperan untuk menguatkan adaptasi iklim melalui pengelolaan lahan berkelanjutan, peningkatan kapasitas masyarakat, dan penguatan ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran ICRAF dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Sulawesi Selatan melalui Land4Lives, sekaligus mengidentifikasi kontribusi, tantangan, serta dampak sosial-ekonomi dari implementasi proyek tersebut. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi ilmiah dalam memperkaya literatur tentang peran aktor internasional dalam memperkuat ketahanan iklim di tingkat lokal, serta menawarkan model adaptasi yang relevan untuk diterapkan di wilayah tropis lainnya.

Metodologi

Desain dan Alasan Penelitian

Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif, karena mampu menangkap kompleksitas dinamika sosial dan kelembagaan dalam implementasi inisiatif pembangunan berkelanjutan. Desain ini memungkinkan analisis mendalam mengenai bagaimana proyek Land4Lives oleh ICRAF yang beroperasi di Sulawesi Selatan serta dampak yang dirasakan oleh masyarakat lokal dan struktur pemerintahan terkait.

Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan green theory, yakni perspektif yang menekankan keterkaitan antara aktivitas manusia, ekonomi, dan kelestarian lingkungan secara transnasional. Green theory menghubungkan kehidupan manusia dan ekonomi dapat berdampak ke lingkungan sehingga memerlukan solusi untuk penyelesaiannya yang juga memerlukan keterlibatan aktor yang luas, termasuk INGO. Peranan INGO juga telah diakui secara global, khususnya di isu pembangunan dalam pengimplementasian kebijakan pemerintah suatu negara, INGO juga memiliki visi terkait peningkatan kesejahteraan kaum marjinal sehingga INGO menjadi wadah solutif dalam permasalahan politik di sistem sosial yang ada. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis peran ICRAF sebagai entitas internasional dalam menangani isu perubahan iklim, khususnya melalui proyek Land4Lives sebagai dukungan terhadap Pembangunan di Sulawesi Selatan. Berdasarkan green theory, penelitian ini berfokus pada bagaimana ICRAF berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat golongan rentan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Green theory dan peran INGO akan menjadi pisau analisis dari penelitian ini, menunjukkan permasalahan lingkungan dapat diselesaikan oleh ICRAF sebagai INGO yang juga memperhatikan isu lingkungan dan masyarakat.

Lokasi dan Partisipan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Selatan dengan fokus Kabupaten Bone, Desa Pakkasalo, yang merupakan salah satu desa lokasi implementasi proyek Land4Lives. Pemilihan lokasi didasarkan pada beberapa kriteria, antara lain degradasi tutupan lahan, karakteristik masing-masing daerah aliran sungai (DAS) berdasarkan penyediaan, permintaan, dan kesimbangan jasa ekosistem, resiko kekeringan yang tinggi pada daerah hulu hingga tengah, resiko banjir yang tinggi sebagian besar di wilayah hilir, indeks ketahanan dan kerentanan pangan, jumlah desa dalam setiap DAS, dan luasan DAS khususnya di Kabupaten Bone, Desa Pakkasalo, serta hasil focus group discussion (FGD) dengan pemangku kepentingan di tingkat provinsi dan kabupaten. Informan penelitian terdiri dari tiga kategori, yaitu: (i) koordinator dan staf ICRAF Provinsi Sulawesi Selatan, (ii) perwakilan pemerintah desa Pakkasalo yang terlibat dalam kolaborasi proyek, dan (iii) anggota masyarakat yang berpartisipasi langsung dalam kegiatan proyek. Teknik purposive sampling digunakan untuk memastikan bahwa responden memiliki pengetahuan dan keterlibatan langsung. Secara keseluruhan, dipilih 5 informan yang terdiri dari dua anggota ICRAF, satu perwakilan pemerintah desa (sekretaris desa Pakkasalo), dan dua anggota masyarakat. Seluruh proses wawancara telah diselesaikan sebelum penyusunan hasil penelitian, setiap wawancara berlangsung selama kurang lebih 30-60 menit. Informan berjumlah ganjil dianggap dapat memenuhi kebutuhan analisis perbandingan, khususnya pada identifikasi kesesuaian atau perbedaan antara data yang diperoleh dari pihak ICRAF dan pengalaman masyarakat. Pemilihan informan didasarkan pada kapasitas mereka untuk mendapatkan informasi yang strategis sekaligus membatasi ruang lingkup penelitian dan mempertajam hasil yang jelas dari pertanyaan yang diberikan.

Pengumpulan Data

Data primer dikumpulkan melalui penelitian lapangan dengan wawancara semi-terstruktur menggunakan pendekatan purposive sampling, melibatkan perwakilan ICRAF Sulawesi Selatan, perangkat desa, kader posyandu, serta petani Desa Pakkasalo. Wawancara dilakukan dalam Bahasa Indonesia, baik secara langsung maupun melalui media daring, kemudian ditranskripsi verbatim dan diterjemahkan bila diperlukan. Data sekunder diperoleh dari dokumen proyek, laporan pemerintah, publikasi ilmiah, serta kerangka kebijakan yang relevan. Selain itu, dokumentasi berupa catatan, foto, dan arsip digunakan untuk melengkapi dan meningkatkan kredibilitas data.

Instrumen dan Material

Instrumen penelitian yang digunakan berupa pedoman wawancara semi-terstruktur yang memuat daftar pertanyaan terbuka, sehingga memungkinkan informan memberikan jawaban secara mendalam sesuai pengalaman dan perspektif mereka. Untuk mendukung akurasi data, peneliti juga menggunakan alat bantu seperti recorder, catatan lapangan, serta aplikasi Whatsapp untuk wawancara tertulis. Material penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung melalui wawancara dengan informan kunci, antara lain Koordinator ICRAF Sulawesi Selatan, penyuluh pertanian ICRAF, perangkat Desa Pakkasalo, kader posyandu, dan petani lokal. Data sekunder diperoleh dari dokumen proyek Land4Lives, laporan pemerintah, publikasi ilmiah, serta arsip foto dan catatan lapangan yang relevan dengan topik penelitian.

Prosedur

Pengumpulan data dilakukan dalam tiga tahap berurutan: (i) pemetaan pemangku kepentingan dan identifikasi informan kunci, (ii) pengumpulan data lapangan melalui wawancara dan observasi, serta (iii) integrasi data sekunder. Wawancara direkam dengan persetujuan informan. Catatan observasi disusun secara sistematis untuk menangkap informasi kontekstual dan isyarat non-verbal.

Analisis Data

Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data (data display), dan penarikan kesimpulan. Proses ini digunakan untuk mengolah informasi yang diperoleh sehingga menghasilkan temuan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hasil dan Pembahasan Penelitian

Implementasi Proyek Land4Lives oleh International Centre for Research in Agroforestrydi Provinsi Sulawesi Selatan

Peran ICRAF dianalisis menggunakan pendekatan peran INGO yang dikemukakan oleh David Lewis dan Nazneen Kanji, dengan klasifikasi pada aspek operasional maupun advokasi. Menurut keduanya, peran INGO dapat bervariasi tergantung pada tipe dan tujuan organisasi, yang terbagi dalam tiga kategori utama: implementer, catalyst, dan partnership (7). Sulawesi Selatan dalam konteks pembangunan, ICRAF menjalankan perannya melalui Sustainable Landscapes for Climate Resilient Livelihoods (Land4Lives), yang menjadi kerangka kerja bagi berbagai inisiatif dan kegiatan yang dilaksanakan, sebagai komitmen dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Proyek ini juga sejalan dengan prioritas pembangunan Indonesia, khususnya penguatan ketahanan pangan, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta pengarusutamaan gender dalam kebijakan daerah

Land4Lives mengintegrasikan praktik agroforestri untuk meningkatkan ketersediaan pangan dan pendapatan rumah tangga, dengan fokus pada kelompok rentan, terutama perempuan. Hal ini juga sejalan dengan Feminist International Assistance Policy Kanada yang menekankan peran strategis perempuan dalam perencanaan dan implementasi respons terhadap perubahan iklim (8) Kajian ICRAF menunjukkan bahwa perempuan di Sulawesi Selatan aktif dalam pengelolaan hasil pertanian seperti kopi, kakao, dan kemiri, namun partisipasi mereka dalam pelatihan dan forum konsultasi masih terbatas akibat beban ganda domestik serta rendahnya kepemilikan aset dan lahan.

Secara operasional, Land4Lives dilaksanakan pada tiga tingkat: provinsi, bentang lahan, dan desa. Pada tingkat provinsi, ICRAF berperan dalam penyusunan dokumen perencanaan Pertumbuhan Ekonomi Hijau (9). Pada tingkat bentang lahan, proyek difokuskan pada tata kelola penggunaan lahan dan perencanaan aksi mitigasi serta adaptasi perubahan iklim. Pada tingkat desa, kegiatan diarahkan pada penguatan ketahanan pangan dan kapasitas adaptif masyarakat dengan mempromosikan pertanian cerdas iklim. Selain itu, komponen manajemen pengetahuan memastikan bahwa hasil pembelajaran dari ketiga paket kerja, tata kelola, pengelolaan bentang lahan, dan penghidupan dapat didiseminasikan melalui mekanisme koordinasi, kemitraan, dan komunikasi lintas pemangku kepentingan.

Peran Implementer ICRAF

Sebagai implementer, ICRAF memberikan layanan langsung melalui proyek Sustainable Landscapes for Climate Resilient Livelihoods (Land4Lives) yang berlangsung 2021–2026 di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Selatan (10). Di Sulawesi Selatan, kegiatan difokuskan di Kabupaten Bone pada 12 desa di wilayah DAS Walanae (11). Proyek senilai 16,8 juta USD ini didanai oleh Global Affairs Canada dan menargetkan pengelolaan bentang lahan yang baik melalui kerja sama dengan petani, mengurangi terjadinya deforestasi, dan meningkatkan mata pencaharian (12). Implementasi mencakup pendampingan desa, pengembangan Kebun Dapur dan Kebun Belajar, pelatihan, akses pembiayaan, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Sesuai yang disampaikan oleh staf ICRAF, Asgar, S.Pd.I, pelaksanaan Kebun Dapur dan Kebun Belajar dimulai dari peninjauan kondisi lapangan dan petani yang kemudian dilanjutkan dengan mini workshop untuk pelatihan secara bertahap terkait pelaksanaan program ini.

Sebagai bagian dari proyek, ICRAF juga meluncurkan Inkubator Peneliti Muda Lanskap (IPML) untuk melibatkan generasi muda lulusan perguruan tinggi dalam penelitian dan advokasi lingkungan (13). Sejak 2022, sekitar 38 peneliti muda dilatih lalu diterjunkan ke desa-desa untuk mengkaji isu bentang lahan, penghidupan, usaha tani, dan data manajemen (14). Hasil penelitian dipublikasikan melalui berbagai media dan dipresentasikan pada Walanae Festival 2022, yang juga menjadi forum literasi iklim, pangan, dan gender (15).

Selain itu, ICRAF melakukan survei ketahanan pangan dan gizi di 12 desa Lokasi Land4Lives untuk menilai pola konsumsi, status gizi, serta kontribusi pangan lokal (16). Survei ini menyasar kelompok rumah tangga, komunitas, dan tokoh kunci, kemudian ditindaklanjuti dengan kampanye pola makan sehat, pembangunan sebanyak 600 kebun dapur partisipatif, serta program gizi terpadu yang diintegrasikan ke rencana pembangunan daerah.

Terakhir, ICRAF mengembangkan Sistem Informasi Akses Lahan (siALAM), platform daring yang menyediakan peta spasial perhutanan sosial, daftar dan prasyarat pengajuan izin, serta modul pelatihan. SiALAM bertujuan memperkuat tata kelola lahan, memfasilitasi akses masyarakat, dan mendukung adaptasi iklim melalui informasi yang dapat diakses publik dan digunakan bersama oleh pemerintah, petani, dan pemangku kepentingan lainnya.

Upaya ICRAF sebagai implementer yaitu dengan menyediakan kegiatan dan layanan secara langsung, baik kepada masyarakat dan instansi terkait untuk peningkatan kapasitas. Keberadaan ICRAF di 12 desa lokasi dapat dimanfaatkan untuk penanganan masalah lingkungan di daerah hulu yang ada di pegunungan dan hilir yang ada di perairan melalui edukasi tentang tanaman yang dapat tahan terhadap dari risiko banjir dan erosi di tingkat hulu, pembuatan Kebun Dapur dan Kebun Belajar di tingkat hilir untuk menyesuaikan tanaman dengan kondisi dan jenis lahan. Edukasi ini juga bertujuan untuk praktik adaptasi dan mitigasi bencana bagi masyarakat untuk terhindar dari masalah lingkungan yang terjadi di tingkat hulu. Peran ICRAF sebagai INGO yang menangani isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat juga terlihat dari program survei ketahanan pangan dan gizi, platform daring inklusif, siALAM, yang membantu akses informasi dan pelatihan terkait tata kelola lahan, juga sebagai bentuk adaptasi iklim. Oleh karena itu, ICRAF dan isu perubahan iklim yang ditangani merefleksikan bagaimana green theory dan INGO menjadi kesatuan yang erat. Peran implementer telah berhasil diaktualisasikan kepada masyarakat desa melalui berbagai program yang mendukung adaptasi ikllim dan peningkatan pemberdayaan masyarakat.

Peran Catalyst ICRAF

Sebagai catalyst, ICRAF mendorong inovasi, advokasi, dan penyebaran nilai baru dalam pembangunan berkelanjutan. Melalui proyek Land4Lives, peran ini diwujudkan dengan penerapan kerangka kerja Land-Use Planning for Multiple Environmental Services (LUMENS) sebagai instrumen perencanaan pembangunan rendah emisi di Sulawesi Selatan.

LUMENS dirancang untuk membantu pemerintah menyusun strategi pertumbuhan ekonomi hijau dan menurunkan emisi gas rumah kaca dengan prinsip inklusif, integratif, dan berbasis data (17). Perangkat ini memiliki empat modul: Planning Unit Reconciliation (PUR) untuk perbaikan peta penggunaan lahan, Quantification of Environment Service (QUES) untuk menampilkan cadangan karbon dan kualitas habitat, Trade-off Analysis (TA) untuk analisis biaya-manfaat skenario, dan Scenario Development and Simulation (SCIENDO) untuk simulasi perubahan tata guna lahan di masa depan (18).

LUMENS telah digunakan di Sulawesi Selatan untuk membandingkan skenario Business as Usual (BAU) dan pertumbuhan hijau, menghasilkan peta intervensi, proyeksi penggunaan lahan, serta indikator makro (ekonomi, sosial, lingkungan) sebagai dasar penyusunan rencana induk dan peta jalan pembangunan hijau sehingga LUMENS tidak hanya sebagai alat teknis, tetapi juga mekanisme advokasi berbasis data yang memperkuat kebijakan pembangunan rendah emisi daerah.

Selain inovasi teknis, ICRAF melalui Land4Lives juga mengembangkan skema pembiayaan inovatif untuk mendukung mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Sulawesi Selatan. Selama ini, pendanaan daerah sangat bergantung pada APBN–APBD yang terbatas dan birokratis. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, ICRAF mengadakan lokakarya multi-pihak guna menjajaki sumber pendanaan alternatif.

Opsi yang ditawarkan mencakup reformulasi APBD, pemanfaatan pendanaan domestik dan internasional seperti investasi berbasis pengembalian, asuransi pertanian, dan hibah, serta optimalisasi Corporate Social Responsibility (CSR) dari sektor swasta. Skema ini diarahkan pada pembayaran jasa lingkungan dan rehabilitasi lahan, dengan tujuan memastikan keberlanjutan program iklim daerah.

Peran ICRAF sebagai catalyst memiliki kemampuan untuk memberikan dan mempromosikan nilai baru yang menciptakan perubahan dalam suatu isu, sesuai dengan peran INGO yang aktif dalam menciptakan inovasi untuk penyelesaian masalah. Khususnya di Sulawesi Selatan, ICRAF dapat mempengaruhi kebijakan dengan pendekatan inovatif seperti penerapan kerangka kerja LUMENS yang membantu pengembangan strategi pembangunan rendah emisi Pemerintah Sulawesi Selatan untuk jangka panjang. Selain itu, kontribusi ICRAF dalam mengkaji skema pendanaan dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim telah menciptakan ruang dialog inklusif melalui lokakarya Land4Lives antara ICRAF dengan para pemangku kebijakan daerah untuk mencapai tujuan pembangunan Pemerintah Sulawesi Selatan. Menyikapi kesenjangan biaya, ICRAF mengajukan opsi pendanaan alternatif dengan skema yang lebih sistematis dan berfokus ke arah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim seperti rehabilitasi lahan.

Peran Partnership ICRAF

Peran partnership ICRAF yaitu membangun hubungan kerjasama mitra di tingkat internasional, nasional, hingga lokal untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Sulawesi Selatan melalui proyek Land4Lives. Dukungan ini diwujudkan dalam pendampingan penyusunan dokumen Master Plan Pertumbuhan Ekonomi Hijau Provinsi Sulawesi Selatan yang dimulai sejak 2023 lalu.

ICRAF berperan menyiapkan kajian iteratif berbagai skenario pembangunan dengan mempertimbangkan kebutuhan lahan, struktur sosial, kebijakan alokasi, serta peningkatan nilai produk dan pasar(19). Perencanaan dilakukan secara inklusif, integratif, dan berbasis data, menggunakan perangkat lunak LUMENS untuk pemodelan pembangunan rendah emisi (20). Hasilnya dituangkan dalam dokumen master plan dan peta jalan (road map) yang mengintegrasikan tata ruang wilayah dengan rencana pembangunan jangka panjang daerah.

Proses ini melibatkan Bappelitbangda, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Ketahanan Pangan, serta lembaga pemerintah lainnya. Fokus utama mencakup tiga komponen: (i) perubahan iklim melalui mitigasi emisi karbon dan peningkatan ketahanan adaptif, (ii) pengelolaan bentang lahan melalui peningkatan produktivitas, konektivitas, dan restorasi lahan kritis, serta (iii) ketahanan pangan terkait ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan (21).

Fokus terhadap pengarusutamaan isu iklim dan ekonomi hijau ke dalam RPJPD RPJMD, RTRWP, RTRWK, dan KLHS, ICRAF berfungsi sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Kontribusinya memperkuat arah kebijakan pembangunan Sulawesi Selatan agar tetap selaras dengan prinsip keberlanjutan, ketahanan ekosistem, serta tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Keberhasilan ICRAF sebagai partner Pemerintah Sulawesi Selatan dalam program ekonomi hijau terletak pada jalinan kerja sama progam yang mengusung perubahan Iklim di Sulawesi Selatan. ICRAF mendampingi penyusunan dokumen master plan, sebagai lembaga yang ahli di bidang agroforestri, ICRAF mengkaji skenario pembangunan darisegi kondisi lahan, sosial, perbaikan pasar, dan kebijakan pendukung. Pendampingan ICRAF diharapkan untuk memahami proses permodelan ekonomi hijau yang lebih terarah dan komprehensif, ICRAF mengambil peran melalui berbagai inisiasi yang akan mengacu pada pertumbuhan ekonomi hijau untuk pembangunan Sulawesi Selatan. Partnership INGO terlihat dari bagaimana ICRAF membentuk kerja sama dengan pemerintah lokal sebagai mitra untuk mencapai tujuan bersama, yaitu penerapan ekonomi hijau untuk tujuan pembangunan Sulawesi Selatan.

Gambar 1. Proses pembuatan pupuk kompos oleh anggota kelompok Kebun Belajar
Gambar 1. Proses pembuatan pupuk kompos oleh anggota kelompok Kebun Belajar (actual size)

Dampak Proyek Land4Lives terhadap Masyarakat Sulawesi Selatan

Perubahan iklim membawa dampak signifikan terhadap aktivitas pertanian, ekonomi, sosial, serta infrastruktur di Sulawesi Selatan. Kondisi ini mendorong perlunya sinergi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan mitigasi dan adaptasi yang berkelanjutan agar tidak menimbulkan kerugian bagi generasi mendatang. Kesadaran publik menjadi aspek penting karena pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara aktivitas sehari-hari dan perubahan iklim merupakan prasyarat utama bagi tindakan kolektif.

Proyek Land4Lives yang diimplementasikan oleh ICRAF menargetkan golongan miskin dan rentan, dengan tujuan jangka panjang meningkatkan ketahanan pangan, pengelolaan bentang lahan yang peka gender, dan penghidupan berketahanan iklim. Sasaran menengah proyek ini mencakup: (i) penguatan tata kelola lahan serta kebijakan mitigasi-adaptasi berbasis inklusi sosial, (ii) perbaikan kesehatan ekosistem melalui pengelolaan lanskap berorientasi kesetaraan gender, dan (iii) peningkatan penghidupan serta ketahanan pangan masyarakat rentan yang disampaikan oleh Muhammad Syahrir, selaku Koordinator ICRAF Sulawesi Selatan, dalam wawancara tertulis.

Dampak program terlihat pada dua level. Pada tingkat kebijakan, rekomendasi Land4Lives terintegrasi ke dalam RPJMD dan RPJPD, yang mendukung agenda Pertumbuhan Ekonomi Hijau provinsi dan kabupaten. Pada tingkat desa, intervensi langsung berupa pendampingan petani, peningkatan kapasitas masyarakat, dan optimalisasi lahan pertanian memberi manfaat nyata bagi keberlanjutan penghidupan. Studi kasus di desa-desa lokus program menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif Land4Lives mampu menghubungkan kebijakan makro dengan aksi lokal yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Dampak Proyek Land4Lives terhadap Masyarakat Sulawesi Selatan

(Studi Kasus: Desa Pakkasalo, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone)

Desa Pakkasalo di Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, memiliki luas 10,4 km² dengan lahan utama berupa sawah dan perkebunan. Desa ini terbagi menjadi empat dusun: Polejiwa I, Polejiwa II, Pakkasalo, dan Kampung Baru. Polejiwa I dan II memiliki lahan subur, sedangkan Pakkasalo dan Kampung Baru rentan banjir karena dekat DAS Walanae. Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai petani padi, pekebun, dan peternak sapi, sementara sebagian kecil bekerja di perdagangan, jasa, dan aparatur desa. Masyarakat masih mempraktikkan pertanian tradisional, seperti menggunakan kuda untuk mengangkut hasil panen.

Sebagai salah satu lokus proyek Land4Lives, desa Pakkasalo dipilih karena potensi pertanian dan pangan yang signifikan, yakni sebanyak 69% bermata perncarian sebagai petani, sebagai pedagang/wiraswasta sebanyak 27%, serta sebanyak 4% bermata pencaharian sebagai PNS, honorer, jasa pertukangan, dan karyawan. Program ICRAF dimulai melalui konsultasi dengan masyarakat yang disambut baik oleh aparat desa. Sekretaris Desa, Anugerah Jamal, menyatakan: “Tentu dengan adanya program ICRAF yang bersentuhan langsung dengan tumbuhan dan pembibitan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga turut memberikan andil dalam pemanasan global, begitu juga dengan adaptasi perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini yang terdampak pada masyarakat.”

Pelaksanaan program yang terjun ke lapangan dengan melihat kondisi di desa membuahkan hasil yang lebih efektif dalam meminimalisir emisi gas rumah kaca melalui pembuatan rumah dan fasilitas bibit serta pemantauan rutin kepada masyarakat.

Program berupa Kebun Dapur dan Kebun Belajar, yang melibatkan ibu rumah tangga, pemuda, dan petani, Kebun Dapur ditanami komoditas sayur sehari-hari, sedangkan Kebun Belajar difokuskan pada kakao dengan tanaman pelindung seperti mangga, durian, dan alpukat. Selain penyediaan bibit dan fasilitas, ICRAF memperkenalkan praktik bercocok tanam yang lebih baik. Melalui kelompok ini, masyarakat mendapat edukasi pertanian, termasuk pembuatan pupuk kompos yang sebelumnya belum dipraktikkan melalui dukungan logistik pertanian dari ICRAF (lihat Gambar 1).

Masyarakat menilai inisiatif ini bermanfaat. Sebagaimana disampaikan warga Desa Pakkasalo, Yusniati dan Kamistan, “Yang program Kebun Dapur dan Kebun Belajar bagus karena bisa memberi kesadaran soal penghijauan dan ada edukasi juga kepada kami masyarakat, diajarki dalam melakukan pertanian dan perkebunan.” Pendampingan tersebut membantu warga tidak hanya bergantung pada satu jenis tanaman, melainkan juga mengelola beragam komoditas sesuai kondisi desa.

Selain itu, ICRAF mengadakan Pelatihan Pengembangan Bisnis Kelompok Usaha Agroforestri untuk memperkuat ekonomi lokal (lihat Gambar 2). Dari pelatihan ini, masyarakat belajar mengolah hasil pertanian menjadi usaha bernilai tambah dengan melibatkan berbagai pihak, sebuah pendekatan baru yang membuka wawasan mereka dalam mengembangkan usaha tani.

Gambar 2. Kegiatan pelatihan pengembangan bisnis yang dilaksanakan ICRAF di Desa Pakkasalo.
Gambar 2. Kegiatan pelatihan pengembangan bisnis yang dilaksanakan ICRAF di Desa Pakkasalo. (actual size)

Pelaksanaan Land4Lives yang sistematis membuat program diterima baik oleh masyarakat. Kolaborasi dengan mahasiswa MBKM juga memberi keuntungan ganda, warga mendapat tambahan pengetahuan, sementara mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di lapangan. Meski begitu, keterbatasan SDM dan kesibukan sehari-hari menjadi kendala bagi sebagian masyarakat untuk ikut serta secara optimal.

Melalui edukasi, layanan, dan pendampingan berbasis riset, ICRAF mendorong perbaikan pengelolaan lahan pertanian maupun Perkebunan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya mereka yang rentan.

Nilai Pembangunan Berkelanjutan Proyek Land4Lives di Desa Pakkasalo

Pelaksanaan proyek Land4Lives di Desa Pakkasalo menunjukkan kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Program ini tidak hanya meningkatkan produktivitas dan pemenuhan kebutuhan masyarakat, tetapi juga menghadirkan nilai lingkungan, sosial, dan ekonomi yang selaras dengan agenda pembangunan berorientasi ekonomi hijau dan penguatan kapasitas masyarakat.

Nilai lingkungan tercermin melalui implementasi Kebun Dapur dan Kebun Belajar, yang mengajarkan praktik pengelolaan lahan secara adaptif terhadap dampak perubahan iklim. Edukasi dan pelatihan yang menyertai kegiatan ini memperkuat nilai sosial, khususnya dalam meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat desa. Sementara itu, nilai ekonomi diwujudkan melalui pendampingan pengembangan usaha agroforestri, yang membantu kelompok tani dalam memperbaiki tata kelola pertanian sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan.

Land4Lives di Desa Pakkasalo merefleksikan komitmen bersama Pemerintah Indonesia, Pemerintah Kanada, dan ICRAF dalam mendukung transisi menuju pembangunan berkelanjutan dan berketahanan iklim. Melalui pendekatan multi-level, proyek ini berhasil mengintegrasikan kebijakan di tingkat provinsi dengan program pemberdayaan di tingkat desa, sehingga menghadirkan dampak yang inklusif dan berjangka panjang bagi masyarakat rentan.

Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa proyek Land4Lives yang diinisiasi ICRAF di Sulawesi Selatan berperan penting sebagai implementer, catalyst, dan partnership dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Program inisiasi yang dijalankan, seperti Kebun Dapur, Kebun Belajar, pelatihan pertanian, survei gizi, siALAM, serta pendampingan usaha agroforestri, berhasil memperkuat ketahanan pangan, kapasitas sosial, dan peluang ekonomi masyarakat, khususnya di Desa Pakkasalo. Melalui inovasi perencanaan berbasis LUMENS dan pengembangan skema pembiayaan alternatif, ICRAF juga berkontribusi pada kebijakan pembangunan rendah emisi dan penyusunan Master Plan Pertumbuhan Ekonomi Hijau. Oleh karena itu, Land4Lives tidak hanya memberi dampak nyata di tingkat lokal, tetapi juga mendukung integrasi isu perubahan iklim, tata kelola lahan, dan ketahanan pangan dalam kebijakan pembangunan daerah secara lebih luas dan inklusif. Namun, dalam pelaksanaannya terdapat catatan bagi ICRAF tentang implementasi program di tingkat desa, khususnya di Desa Pakkasalo, keterbatasan dari segi partisipasi dan SDM menjadi kendala program untuk dilaksanakan optimal. ICRAF akan terus berkomitmen dengan menekankan pentingnya isu perubahan iklim di tengah aktivitas pembangunan Sulawesi Selatan, implementasi dan regulasi yang dihasilkan oleh ICRAF sebelumnya dan capaian yang telah diperoleh menjadi poin evaluasi, mengingat bahwa proyek Land4Lives berjalan selama 5 tahun (2021-2026) yang hingga saat ini masih sedang dalam implementasi.

Declarations

Ethics Statement

Untuk penelitian ini, persetujuan etik tidak diperlukan.

Data Availability

Semua data yang dihasilkan atau dianalisis selama penelitian ini telah disertakan dalam artikel yang diterbitkan.

Funding Information

Penulis menyatakan bahwa tidak ada dukungan keuangan yang diterima untuk penelitian, penulisan, dan/atau publikasi artikel ini.

Conflict of Interest

Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.

References

  1. Adom PK. The socioeconomic impact of climate change in developing countries over the next decades: a literature survey. Heliyon. 2024;10.
  2. Al Hakim Marbun M, Gusmira E. Literatur review: studi tentang distribusi suhu dan dampaknya terhadap ekosistem hutan tropis. JSSIT J Sains dan Sains Terapan. 2024;2.
  3. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Hutan dan deforestasi Indonesia tahun 2019. 2019.
  4. Chandra W. Hari Hutan Internasional, WALHI Sulsel: deforestasi dan degradasi lahan di Sulsel di tingkat serius. Mongabay. 2023.
  5. Wicaksono DA, Yurista AP. Konservasi hutan partisipatif melalui REDD+: studi kasus Kalimantan Tengah sebagai provinsi percontohan REDD+. J Wilayah Lingkung. 2013;1(2):189–200.
  6. Rema DS. Peran World Agroforestry Centre (ICRAF) dalam mitigasi perubahan iklim di Provinsi Sumatera Selatan Indonesia. Skripsi. 2022.
  7. Lewis D, Kanji N. Non-governmental organizations and development. 2009.
  8. Angelita E, Kresnawati MA. Glokalisasi dalam implementasi kebijakan Feminist International Assistance Policy (FIAP) Kanada. Gema Wiralodra. 2023;14(1).
  9. Hastuti EF. Land4Lives LahanUntukKehidupan: bentang lahan berkelanjutan untuk penghidupan berketahanan iklim di Indonesia. 2022.
  10. Amnifu D. ICRAF memanggil lulusan muda perguruan tinggi di NTT untuk menjadi peneliti lanskap. 2022.
  11. Muin A. Proyek Land4Lives di Bone, ICRAF prioritaskan DAS Walanae. IDN Times Sulsel. 2022.
  12. Yuliani D. Pilih Kabupaten Bone, proyek kolaborasi Lahan untuk Kehidupan ICRAF Indonesia dimulai. 2022.
  13. Fitriana S, Ekadinata A, Putu N, Laksemi S, Kiswani Bodro D, Benita T, et al. Penguatan kapasitas generasi muda cerdas iklim melalui Inkubator Peneliti Muda Lanskap (IPML). 2022.
  14. Firmansyah B. Cari 40 peneliti lanskap di Sulsel, ICRAF Indonesia buka pendaftaran untuk lulusan muda. 2022.
  15. Celebesmedia. Perubahan iklim, ancaman nyata bagi ketahanan pangan. 2022.
  16. Wasi I. Kondisi DAS Walanae diteliti, 12 desa jadi pilot project. Harian Fajar. 2022.
  17. CIFOR-ICRAF di Indonesia: tiga dekade kemitraan. 2022.
  18. Dewi S, Johana F, Ekadinata A, Agung P. Perencanaan penggunaan lahan untuk strategi pembangunan rendah emisi (LUWES). 2014.
  19. World Agroforestry (ICRAF) Program Indonesia. Lahan untuk kehidupan. 2024.
  20. Pokja Penyusunan GGP Provinsi Sulawesi Selatan. Bentang lahan berkelanjutan untuk penghidupan berketahanan iklim di Indonesia. 2023.
  21. Pokja Penyusunan GGP Provinsi Sulawesi Selatan. Pertumbuhan ekonomi hijau di Provinsi Sulawesi Selatan. 2023. 
Citation
ACS Style

Rusdi, B.F. Kolaborasi ICRAF dan Masyarakat melalui Proyek Land4Lives untuk Mendorong Pembangunan Berkelanjutan di Sulawesi Selatan. Kolaborasi Masyarakat 2025, 1(2), 58-64.

AMA Style

Rusdi, BF. Kolaborasi ICRAF dan Masyarakat melalui Proyek Land4Lives untuk Mendorong Pembangunan Berkelanjutan di Sulawesi Selatan. Kolaborasi Masyarakat. 2025; 1(2):58-64.

Chicago Style

Besse Fadhilah Rusdi. 2025. "Kolaborasi ICRAF dan Masyarakat melalui Proyek Land4Lives untuk Mendorong Pembangunan Berkelanjutan di Sulawesi Selatan" Kolaborasi Masyarakat 1, no. 2:58-64.

We Revolutionize Sciences, We Publish Sciences, We Are Scientist

ETFLIN

Become Our Reviewer

Join us in shaping the future of scholarly research and making a meaningful contribution to academia.

Newsletter

Receive any update from us

Connect with us

Please reach us on our social media below.
ETFLIN Social ETFLIN Social ETFLIN Social ETFLIN Social ETFLIN Social ETFLIN Social
© 2015 - 2026 ETFLIN (Palu, Indonesia)