RESEARCH ARTICLE
Peran Industri Rumahan dalam Pemberdayaan Masyarakat dan Peningkatan Pendapatan Masyarakat Desa di Desa Rampoang Kabupaten Luwu Utara
Kolaborasi Masyarakat|Vol. 2, Issue 1, pp. 18-25 (2026)
Received
Feb 23, 2026Revised
May 14, 2026Accepted
May 26, 2026Published
Jun 10, 2026
Abstract
Pendahuluan
Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan ekonomi yang inklusif, khususnya di wilayah pedesaan yang masih menghadapi keterbatasan lapangan kerja dan ketidakstabilan pendapatan rumah tangga (1). Kondisi ini sering diperburuk oleh keterbatasan infrastruktur ekonomi serta minimnya diversifikasi sumber pendapatan masyarakat desa. Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, masyarakat desa kerap berhadapan dengan kendala struktural seperti keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, dan pasar kerja formal (2). Hambatan tersebut juga mencakup rendahnya literasi keuangan dan terbatasnya jaringan pemasaran yang dapat memperluas peluang usaha. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap tingginya tingkat setengah pengangguran serta kerentanan ekonomi rumah tangga, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan pekerjaan informal (3). Oleh karena itu, diperlukan strategi pembangunan ekonomi yang berbasis potensi lokal, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat partisipasi social (4).
Urgensi pemberdayaan ekonomi masyarakat desa semakin jelas jika dikaitkan dengan peran strategis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam perekonomian nasional (5). Data menunjukkan bahwa UMKM menyerap lebih dari 96% tenaga kerja nasional dan memberikan kontribusi lebih dari 60% terhadap produk domestik bruto Indonesia (6). Fakta ini menunjukkan bahwa sektor UMKM memiliki daya tahan yang tinggi terhadap krisis ekonomi serta menjadi penopang utama ekonomi kerakyatan. Dalam konteks tersebut, industri rumahan menjadi salah satu bentuk usaha yang paling mudah diakses oleh masyarakat desa karena membutuhkan modal relatif kecil dan tidak menuntut persyaratan keterampilan formal yang tinggi (7). Meskipun demikian, industri rumahan masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan modal usaha, rendahnya pemanfaatan teknologi produksi dan pemasaran, ketergantungan pada bahan baku lokal, serta fluktuasi permintaan pasar (8). Selain itu, kurangnya akses terhadap pelatihan manajemen usaha juga menjadi faktor yang menghambat peningkatan skala produksi. Kendala-kendala ini sering kali menghambat industri rumahan untuk berkembang secara optimal dan berfungsi sebagai sarana pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan (9).
Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa industri rumahan berpotensi meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan kerja, namun kajian yang secara khusus menempatkan industri rumahan sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat masih relatif terbatas, terutama di wilayah pedesaan (10). Sebagian besar penelitian cenderung menekankan aspek ekonomi semata, tanpa mengkaji secara mendalam proses pemberdayaan seperti peningkatan kapasitas, penyerapan tenaga kerja, dan keberlanjutan usaha (11). Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa home industry dapat menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui penciptaan peluang kerja, peningkatan keterampilan masyarakat, dan penguatan ekonomi keluarga berbasis local (12). Selain itu, penelitian mengenai pemberdayaan masyarakat terus berkembang dan menekankan pentingnya pendekatan kontekstual berbasis potensi lokal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa (13). Berdasarkan celah penelitian tersebut, studi ini menawarkan analisis pemberdayaan masyarakat melalui industri rumahan sebagai strategi peningkatan pendapatan masyarakat desa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap pemilik dan pekerja industri rumahan di Desa Rampoang, Kecamatan Tana Lili. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran industri rumahan dalam memberdayakan masyarakat melalui mekanisme enabling, empowering, dan protecting, serta menilai kontribusinya terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Metodologi
Desain dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi lapangan (field-based qualitative inquiry) (14). Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai proses pemberdayaan masyarakat melalui industri rumahan serta mekanisme sosial-ekonomi yang berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat desa. Desain kualitatif dinilai paling tepat karena tujuan penelitian tidak berfokus pada pengujian hipotesis atau generalisasi statistik, melainkan pada eksplorasi fenomena, makna, dan dinamika pemberdayaan dalam konteks lokal secara empiris dan kontekstual.
Lokasi Penelitian, Populasi, dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Rampoang, Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, sebuah wilayah pedesaan dengan aktivitas industri rumahan yang masih berjalan. Populasi penelitian mencakup seluruh pelaku industri rumahan yang beroperasi di desa tersebut pada saat penelitian dilakukan. Subjek penelitian dipilih secara purposive berdasarkan keterkaitannya dengan tujuan penelitian, yaitu pelaku usaha yang telah menjalankan industri rumahan minimal dua tahun, melibatkan tenaga kerja lokal atau anggota keluarga, serta terlibat langsung dalam proses produksi dan pengelolaan usaha. Berdasarkan kriteria tersebut, penelitian ini melibatkan tiga unit industri rumahan, dua industri mebel dan satu usaha pengolahan air minum, dengan total sembilan informan yang terdiri atas tiga pemilik usaha dan enam pekerja.
Pemilihan industri mebel dan usaha pengolahan air minum dilakukan secara purposive karena kedua jenis usaha tersebut merupakan industri rumahan yang aktif dan berkelanjutan di Desa Rampoang. Industri mebel dipilih karena memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja lokal serta melibatkan proses pelatihan keterampilan kerja secara langsung kepada masyarakat sekitar. Selain itu, industri mebel juga menunjukkan adanya pembagian kerja yang jelas antara pemilik usaha dan pekerja sehingga relevan untuk dianalisis dalam perspektif pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, usaha pengolahan air minum dipilih karena merepresentasikan usaha keluarga mandiri berbasis rumah tangga dengan proses produksi dan pengelolaan yang dilakukan secara sederhana dan berkelanjutan. Kedua jenis usaha ini dinilai mampu menggambarkan praktik pemberdayaan masyarakat melalui industri rumahan dalam konteks pedesaan.
Partisipan dalam penelitian ini berjumlah sembilan orang yang terdiri atas pemilik dan pekerja industri rumahan di Desa Rampoang, Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara. Informan mencakup dua pemilik industri mebel beserta enam pekerja, serta satu pemilik usaha pengolahan air minum. Seluruh informan terlibat langsung dalam aktivitas produksi dan pengelolaan usaha sehari-hari. Informan dalam penelitian ini terdiri atas pemilik usaha dan pekerja dengan peran yang berbeda dalam proses produksi, pemasaran, dan pengelolaan usaha, sehingga mampu memberikan informasi yang beragam mengenai praktik pemberdayaan masyarakat melalui industri rumahan. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan mempertimbangkan keterlibatan aktif dalam industri rumahan dan keberlangsungan usaha yang telah berjalan minimal dua tahun. Jumlah informan dalam penelitian ini dianggap memadai karena data yang diperoleh telah menunjukkan pengulangan informasi dan kesesuaian tema penelitian, sehingga telah mencapai kecukupan data (data saturation) sesuai dengan kebutuhan penelitian kualitatif deskriptif.
Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipatif, wawancara mendalam semi-terstruktur, dan dokumentasi yang saling melengkapi. Observasi difokuskan pada aktivitas produksi, pembagian kerja, penggunaan sarana produksi, serta interaksi antara pemilik usaha dan pekerja untuk memperoleh gambaran empiris mengenai operasional industri rumahan.
Wawancara mendalam dilakukan dengan pemilik usaha dan pekerja untuk menggali informasi terkait perkembangan usaha, bentuk pemberdayaan tenaga kerja, perubahan pendapatan, kendala usaha, serta strategi keberlanjutan. Setiap wawancara berlangsung selama 45–90 menit dan direkam dengan persetujuan informan. Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung, meliputi catatan usaha sederhana, foto kegiatan produksi, dan dokumen desa yang relevan, guna memperkuat validitas temuan penelitian.
Prosedur Analisis Data
Analisis data dilakukan secara bertahap mengikuti model analisis interaktif, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, seluruh hasil wawancara ditranskripsikan secara verbatim dan dikodekan untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat dan peningkatan pendapatan.
Tahap penyajian data dilakukan dengan mengelompokkan temuan ke dalam kategori analitis, yaitu enabling (penyediaan akses dan sarana), empowering (penguatan kapasitas dan keterampilan), dan protecting (keberlanjutan dan perlindungan usaha). Penggunaan kategori enabling, empowering, dan protecting didasarkan pada kerangka teori pemberdayaan masyarakat yang memandang pemberdayaan sebagai proses bertahap, mulai dari penciptaan akses dan peluang, penguatan kapasitas individu dan kelompok, hingga upaya menjaga keberlanjutan serta perlindungan usaha masyarakat (15). Kerangka analisis ini digunakan untuk memahami bagaimana industri rumahan berperan dalam menciptakan peluang ekonomi, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan mempertahankan keberlanjutan usaha berbasis lokal dalam konteks pemberdayaan masyarakat pedesaan (12).
Kategori ini dipilih karena dinilai mampu menangkap dinamika pemberdayaan masyarakat melalui industri rumahan secara komprehensif dan kontekstual sesuai dengan temuan lapangan. Pada tahap akhir, kesimpulan ditarik melalui proses interpretasi kritis dengan membandingkan temuan lapangan dan kerangka teori pemberdayaan masyarakat. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik, serta pengecekan ulang informasi kunci kepada informan (member checking).
Hasil Penelitian
Pemberdayaan Masyarakat melalui Industri Rumahan
Pemberdayaan masyarakat dalam penelitian ini dianalisis melalui tiga proses utama, yaitu enabling, empowering, dan protecting, yang teridentifikasi dari praktik industri rumahan di Desa Rampoang berdasarkan hasil wawancara dan observasi lapangan.
Enabling
Proses enabling tercermin melalui penyediaan akses kerja dan pelatihan keterampilan bagi masyarakat sekitar industri rumahan. Pemilik industri mebel Tabaro Mebel menjelaskan bahwa usahanya telah berjalan dalam jangka waktu yang relatif lama dan dikelola sebagai usaha keluarga dengan melibatkan tenaga kerja lokal. Ia menyatakan bahwa:
“Industri rumahan ini sudah ada kurang lebih 9 tahun serta merupakan milik pribadi dan memiliki 3 karyawan. Adapun modal yang dibutuhkan dalam memulai usaha yaitu Rp25.000.000,00 sampai dengan Rp50.000.000,00. Industri mebel ini membuat barang sesuai dengan pesanan pelanggan”.
Praktik serupa juga ditemukan pada industri mebel Yuki Jaya, di mana pemilik usaha memanfaatkan industri rumahan sebagai sarana pelatihan keterampilan produksi bagi masyarakat sekitar dan anggota keluarga yang belum memiliki pekerjaan. Hal tersebut disampaikan sebagai berikut:
“Industri mebel yang dimiliki sudah berdiri selama 7 tahun dengan mempekerjakan karyawan yang ada disekitar industri serta keluarga yang tidak memiliki pekerjaan. Disini juga masyarakat dapat dilatih untuk membuat seperti pintu, jendela, kuseng sehingga bisa bekerja dan menghasilkan produk yang memiliki kualitas yang baik”.
Dari sisi operasional, karyawan industri mebel menjelaskan bahwa bahan baku kayu diperoleh dari kios langganan dengan kualitas yang terjamin, dan produk yang dihasilkan meliputi berbagai perlengkapan rumah tangga. Hal ini tercermin dalam pernyataan berikut:
“Bahan baku yang digunakan dalam membuat barang-barang hasil produksi mebel yaitu kayu dapat diperoleh dari kios-kios kayu yang telah menjadi langganan dan kualitasnya sudah terjamin. Bapak Nasrullah juga mengatakan bahwa produk yang dihasilkan dalam industri mebel yaitu pintu, jendela, kuseng, meja dan kursi”.
Selain itu, variasi harga produk ditentukan berdasarkan jenis pesanan pelanggan, sebagaimana dijelaskan oleh pemilik industri:
“Harga produk yang dijual bervariasi tergantung dari jenis produk yang dipesan pelanggan, seperti lemari 3 pintu harganya sekitar Rp5.000.000,00, harga pintu per unit sebesar Rp1.000.000,00, harga jendela sebesar Rp400.000,00, dan kursi per set harganya sebesar Rp4.000.000,00”.
Pada usaha penjualan air minum yang telah dipanaskan, proses enabling dilakukan melalui pengelolaan usaha keluarga secara mandiri tanpa melibatkan karyawan, sebagaimana dinyatakan oleh pemilik usaha:
“Usaha penjual air minum ini merupakan usaha milik keluarga yang proses produksi dan pemasaran semua dilakukan sendiri. Adapun yang dihasilkan yakni hanya air minum yang telah dipanaskan dengan harga jual Rp5.000 per galon”.
Empowering
Proses empowering terlihat dari upaya pemilik usaha dalam mengembangkan kemampuan pekerja dan menjaga kualitas produk. Upaya ini dilakukan agar industri rumahan mampu bertahan dalam persaingan usaha sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal. Pemilik industri mebel menekankan pentingnya kualitas sebagai strategi mempertahankan usaha, sebagaimana diungkapkan berikut:
“Untuk mempertahankan industri mebel maka pemilik akan membuat produk dengan kualitas terbaik agar pelanggan bisa merasa puas. Kepuasan pelanggan menjadi hal yang utama karena jika pelanggan merasa puas tidak memutup kemungkinan pelanggan akan datang lagi untuk melakukan pesanan”.
Prinsip serupa juga diterapkan pada usaha air minum, yang menekankan kualitas produk dan ketersediaan layanan secara konsisten:
“Dalam mempertahankan usaha ini maka pemilik selalu berusaha menghasilkan air minum yang kualitas baik, tidak berbau, tidak berasa dan berusaha agar air yang telah dipanaskan tidak pernah habis”.
Dari perspektif tenaga kerja, industri mebel menunjukkan pola pemberdayaan melalui pelatihan langsung di tempat kerja. Karyawan menjelaskan bahwa keterampilan tidak menjadi syarat utama pada tahap awal, melainkan dikembangkan melalui proses kerja, sebagaimana disampaikan berikut:
“Karyawan yang bekerja disini tidak harus memiliki kemampuan yang maksimal yang penting rasa ingin bekerjanya tinggi, ingin belajar, bekerja keras. Masalah kemampuan yang dimiliki bisa dilatih dan diajar pada saat sudah bekerja, pemilik industri akan memberikan pelatihan-pelatihan agar semua karyawan memiliki kemampuan”.
Keberadaan industri rumahan juga dirasakan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar, terutama melalui kesempatan kerja dan pelatihan keterampilan, sebagaimana dinyatakan oleh karyawan industri mebel:
“Dengan adanya industri mebel di Desa Rampoang sangat membantu perekonomian masyarakat terutama bagi pemilik dan karyawan. Industri mebel sangat memberdayakan masyarakat sekitar karena adanya pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh pemilik kepada yang ingin bekerja”.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilik industri rumahan memiliki peran dominan dalam proses pemberdayaan masyarakat karena bertindak sebagai penyedia lapangan kerja, pelatih keterampilan, sekaligus pengelola keberlanjutan usaha. Namun demikian, proses pemberdayaan tidak hanya bergantung pada pemilik usaha, tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi antara pemilik dan pekerja dalam menjalankan aktivitas produksi secara berkelanjutan. Interaksi tersebut membentuk hubungan kerja yang mendukung transfer keterampilan dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal.
Protecting
Proses protecting diwujudkan melalui upaya menjaga keberlanjutan usaha dan memperluas jaringan kerja sama. Salah satu bentuknya adalah kolaborasi dengan pekerja bangunan untuk meningkatkan visibilitas industri mebel dan memperluas pasar, sebagaimana dijelaskan berikut:
“Dalam pengembangan industri ini juga bekerja sama dengan pekerja-pekerja bangunan hal ini guna bertujuan agar industri mebel ini lebih banyak dikenal masyarakat. Bekerja sama dengan pekerja bangunan memberikan manfaat yaitu jika pekerja bangunan melakukan pekerjaannya seperti membuat rumah maka kita yang membuatkan kuseng, pintu, dan jendela”.
Selain itu, strategi pemasaran dilakukan secara sederhana melalui jaringan sosial, terutama dari pelanggan ke pelanggan, sebagaimana diungkapkan oleh karyawan industri:
“Pemasaran dilakukan dengan cara mempromosikan dari teman ke teman maksudnya yaitu orang sudah pernah melakukan pesanan akan memberitahukan informasi kepada temannya tentang keberadaan industri mebel ini yang pastinya dengan kualitas terbaik”.
Selain faktor pengelolaan usaha, keberlanjutan industri rumahan juga sangat dipengaruhi oleh kepercayaan pelanggan dan permintaan pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk menjadi faktor utama yang menentukan keberlangsungan usaha karena berhubungan langsung dengan kepuasan pelanggan dan keberlanjutan pemesanan produk. Dengan demikian, pasar dan konsumen memiliki pengaruh penting terhadap stabilitas pendapatan industri rumahan di Desa Rampoang.
Perubahan Tingkat Penghasilan
Perubahan tingkat penghasilan digunakan sebagai indikator untuk menilai dampak ekonomi keterlibatan masyarakat dalam industri rumahan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan penghasilan pada sebagian besar pemilik usaha dan pekerja setelah terlibat dalam aktivitas industri rumahan di Desa Rampoang.
| No. | Informan | Peran | Pendapatan Sebelum (Rp/bulan) | Pendapatan Setelah (Rp/bulan) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Ikhsan | Pemilik usaha (mebel) | 8.000.000 | 10.000.000 |
| 2 | Masrah | Pemilik usaha (mebel) | 9.000.000 | 10.000.000–15.000.000 |
| 3 | Muslimin | Pemilik usaha (air minum) | 2.550.000 | 3.000.000–3.500.000 |
| 4 | Nasrullah | Pekerja (mebel) | 2.000.000 | 4.000.000 |
| 5 | Jabal | Pekerja (mebel) | 5.550.000 | 6.000.000 |
| 6 | Mus | Pekerja (mebel) | – | 6.000.000 |
| 7 | Sahril | Pekerja (mebel) | 3.000.000 | 3.000.000 |
| 8 | Immang | Pekerja (mebel) | – | 5.000.000 |
| 9 | Amir | Pekerja (mebel) | – | 5.000.000 |
Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan dalam industri rumahan berkaitan dengan peningkatan penghasilan bagi sebagian besar informan. Pemilik usaha mengalami peningkatan pendapatan setelah menjalankan usahanya, sedangkan pekerja memperoleh penghasilan yang lebih stabil setelah bergabung dengan industri mebel. Beberapa informan yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan melaporkan adanya pendapatan bulanan setelah bekerja di industri rumahan. Meskipun demikian, perubahan penghasilan tidak terjadi secara merata, karena terdapat informan yang menunjukkan tingkat pendapatan relatif stabil sebelum dan setelah bekerja. Temuan ini mengindikasikan bahwa industri rumahan berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan, dengan variasi besaran yang dipengaruhi oleh peran dan karakteristik usaha.
Masyarakat yang paling merasakan dampak pemberdayaan melalui industri rumahan adalah masyarakat sekitar yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses pekerjaan dan keterampilan kerja. Industri rumahan memberikan kesempatan bagi masyarakat lokal, anggota keluarga, dan individu yang belum memiliki pekerjaan tetap untuk terlibat dalam aktivitas produktif sehingga memperoleh pendapatan dan pengalaman kerja secara langsung.
Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran industri rumahan dalam pemberdayaan masyarakat dan peningkatan pendapatan di Desa Rampoang. Berdasarkan hasil observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi, pemberdayaan masyarakat melalui industri rumahan dapat dipahami sebagai proses yang berlangsung melalui tiga dimensi utama, yaitu enabling, empowering, dan protecting. Ketiga dimensi ini saling terkait dalam membentuk mekanisme pemberdayaan yang bersifat kontekstual dan berbasis lokal.
Pemberdayaan Masyarakat melalui Industri Rumahan
Enabling
Dimensi enabling tercermin dari keberadaan industri rumahan yang mampu menciptakan akses kerja dan peluang pendapatan bagi masyarakat Desa Rampoang (16). Industri mebel dan usaha pengolahan air minum beroperasi secara mandiri di lingkungan rumah tangga tanpa dukungan pendanaan langsung dari pemerintah, namun tetap berfungsi sebagai penyerap tenaga kerja lokal, baik anggota keluarga maupun masyarakat sekitar.
Keberadaan industri rumahan ini memberikan kesempatan kerja tidak hanya bagi individu yang telah memiliki keterampilan teknis, tetapi juga bagi mereka yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman kerja formal. Dengan demikian, industri rumahan berperan sebagai ruang ekonomi inklusif yang menurunkan hambatan masuk ke pasar kerja lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan masyarakat tidak semata-mata bergantung pada ekspansi usaha berskala besar, tetapi juga dapat dihasilkan melalui aktivitas ekonomi kecil yang berkelanjutan.
Selain berdampak langsung pada pemilik dan pekerja, aktivitas industri rumahan turut memunculkan efek ekonomi tidak langsung (spillover effects) terhadap lingkungan sekitar, seperti meningkatnya konsumsi di warung-warung lokal (17). Hal ini mengindikasikan bahwa industri rumahan berkontribusi pada penguatan ekonomi desa secara lebih luas. Temuan dalam penelitian berjudul Strategi Membangun Ketahanan Home Industry Unggulan Pariwisata di Destinasi Super Prioritas Mandalika menunjukkan bahwa industri rumahan mampu bertahan melalui strategi adaptasi dan fleksibilitas usaha, yang sejalan dengan pandangan Harimurti mengenai ketahanan dan kemampuan adaptif industri kecil dalam menghadapi ketidakstabilan ekonomi (18).
Empowering
Dimensi empowering tercermin dalam proses pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui transfer keterampilan dan pengetahuan kerja (16). Pemilik industri tidak hanya berperan sebagai pengelola usaha, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran bagi pekerja. Individu yang telah memiliki keterampilan teknis mengalami peningkatan kemampuan melalui praktik kerja berkelanjutan, sementara pekerja tanpa pengalaman sebelumnya memperoleh pelatihan langsung di tempat kerja.
Proses ini memperluas pilihan ekonomi masyarakat dan mendorong partisipasi aktif dalam kegiatan produktif, sehingga mengurangi ketergantungan pada pekerjaan informal yang tidak stabil atau kondisi pengangguran. Temuan ini memperkuat konsep pemberdayaan sebagaimana dikemukakan oleh Ife dan Zubaedi, bahwa pemberdayaan mencakup penyediaan sumber daya, keterampilan, dan kesempatan yang memungkinkan masyarakat mengendalikan keputusan ekonomi mereka sendiri (19).
Dengan demikian, industri rumahan tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan, tetapi juga sebagai wahana pembentukan kapasitas individu yang berpotensi meningkatkan mobilitas ekonomi jangka menengah.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dalam industri rumahan tidak hanya berlangsung melalui peningkatan pendapatan, tetapi juga melalui pembentukan hubungan sosial-ekonomi antara pemilik usaha dan masyarakat sekitar. Pemilik usaha berperan sebagai aktor utama dalam menciptakan akses kerja dan transfer keterampilan, sedangkan masyarakat lokal berperan sebagai tenaga kerja yang mendukung keberlanjutan produksi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan industri rumahan sangat dipengaruhi oleh kolaborasi sosial, kualitas produk, dan kemampuan usaha dalam mempertahankan kepercayaan pasar secara berkelanjutan.
Protecting
Dimensi protecting berkaitan dengan upaya menjaga keberlanjutan industri rumahan agar tetap beroperasi dan kompetitif (20). Dalam konteks Desa Rampoang, pemilik industri melakukan strategi perlindungan usaha melalui kerja sama dengan pihak eksternal, seperti pekerja bangunan, serta dengan menjaga kualitas produk agar sesuai dengan kebutuhan dan harapan konsumen.
Upaya menjaga kualitas produk berkontribusi pada terbentuknya kepercayaan pelanggan dan perluasan jaringan pemasaran berbasis rekomendasi. Hal ini mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang, sebagaimana dikemukakan oleh Kotler dan Keller bahwa kualitas produk berhubungan erat dengan kepuasan dan loyalitas konsumen (21).
Selain itu, pemanfaatan limbah produksi, seperti sisa kayu dan serbuk gergaji, oleh masyarakat sekitar menunjukkan adanya praktik ekonomi sirkular sederhana yang menambah nilai guna sumber daya dan memberikan manfaat ekonomi tambahan. Praktik ini memperkuat ketahanan sosial-ekonomi komunitas serta menunjukkan bahwa industri rumahan memiliki kontribusi yang melampaui aktivitas produksi utama.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa industri rumahan di Desa Rampoang berperan sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat melalui penciptaan akses kerja (enabling), penguatan kapasitas sumber daya manusia (empowering), dan upaya menjaga keberlanjutan usaha (protecting). Dampak pemberdayaan tidak hanya terlihat pada peningkatan pendapatan individu, tetapi juga pada dinamika ekonomi lokal dan penguatan jejaring sosial-ekonomi masyarakat desa. Meskipun demikian, variasi tingkat peningkatan pendapatan dan keterlibatan kerja menunjukkan bahwa manfaat industri rumahan bersifat kontekstual dan dipengaruhi oleh peran, keterampilan, serta karakteristik usaha yang dijalankan.
Jumlah Penghasilan
Peningkatan pendapatan dalam suatu usaha erat kaitannya dengan karakteristik produk yang dihasilkan, baik dari segi jenis maupun kualitas. Kotler dan Keller menekankan bahwa keberhasilan usaha ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan pelanggan melalui proposisi nilai, yaitu seperangkat manfaat yang ditawarkan kepada konsumen untuk memenuhi kebutuhan tersebut (22).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk memiliki peran penting dalam meningkatkan jumlah penghasilan industri rumahan di Desa Rampoang. Industri mebel menghasilkan beragam produk, seperti pintu, lemari, kusen, jendela, kursi, dan perabot lainnya, sementara usaha air minum hanya memproduksi satu jenis produk, yaitu air minum yang telah dipanaskan. Perbedaan ragam produk ini berimplikasi pada variasi sumber pendapatan yang diterima oleh masing-masing pelaku usaha.
Selain jenis produk, kualitas produk menjadi faktor penentu dalam peningkatan penghasilan. Berdasarkan hasil wawancara, para pemilik usaha menaruh perhatian besar pada mutu produk guna menjaga kepuasan konsumen. Produk yang berkualitas cenderung meningkatkan kepercayaan pelanggan, yang selanjutnya mendorong terjadinya pemesanan ulang maupun rekomendasi dari konsumen kepada pihak lain.
Lebih lanjut, jumlah penghasilan sangat dipengaruhi oleh volume pesanan yang diterima. Semakin banyak pesanan yang masuk, semakin besar pula pendapatan yang diperoleh. Oleh karena itu, upaya menjaga kualitas produk merupakan strategi penting bagi industri rumahan di Desa Rampoang dalam mempertahankan dan meningkatkan jumlah penghasilan secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa industri rumahan di Desa Rampoang tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan masyarakat, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat berbasis lokal melalui proses enabling, empowering, dan protecting. Pemberdayaan masyarakat berlangsung melalui penyediaan akses kerja, pelatihan keterampilan, serta keterlibatan masyarakat lokal dalam aktivitas produksi industri rumahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilik usaha memiliki peran dominan dalam proses pemberdayaan masyarakat karena berfungsi sebagai penyedia lapangan kerja, fasilitator pelatihan keterampilan, dan pengelola keberlanjutan usaha. Namun demikian, keberhasilan pemberdayaan juga dipengaruhi oleh interaksi antara pemilik usaha dan pekerja dalam menjaga kualitas produksi dan keberlanjutan usaha secara bersama-sama. Penelitian ini juga menemukan bahwa kualitas produk, kepercayaan pelanggan, dan permintaan pasar menjadi faktor penting yang mempengaruhi keberlanjutan industri rumahan dan peningkatan pendapatan masyarakat. Masyarakat yang paling merasakan dampak pemberdayaan adalah masyarakat sekitar yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses pekerjaan dan keterampilan kerja. Dengan demikian, industri rumahan dapat dipahami sebagai strategi ekonomi lokal yang tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dan ketahanan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Declarations
Conflict of Interest
The authors declare no conflicting interest.
Data Availability
All data generated or analyzed during this study are included in this published article [and its supplementary information files]. Additional datasets are available in [repository name] at [DOI or link].
Ethics Statement
Ethical approval was not required for this study.
Funding Information
The author(s) declare that no financial support was received for the research, authorship, and/or publication of this article.
References
- Nuryadin D, Umaroh R, Sodik J. Keterkaitan Spasial Produksi Ikan Tawar dan Dampak Sosial-Ekonomi Masyarakat di Kabupaten Magelang. Jepi. 2024;24(2):208-229. doi: https://doi.org/10.21002/jepi.2024.13
- Putri Amirah Hajarani, Imsar Imsar. Strategi Pembangunan Ekonomi Pedesaan di Daerah Tertinggal Melalui Optimalisasi Potensi Lokal, Infrastruktur Pertanian, dan Teknologi Tepat Guna. Jupiekes. 2025;3(3):123-134. doi: https://doi.org/10.59059/jupiekes.v3i3.2747
- Damanik R, Zebua HI. When Informality Meets Poverty: Vulnerability of Informal Workers in North Sumatra’s Rural and Urban Divide. J-naker. 2025;20(1). doi: https://doi.org/10.47198/jnaker.v20i1.463
- Purnama Sari N. Perumusan Blue Ocean Strategy dan Coopetition dalam Pengembangan Desa Wisata Menuju Pariwisata Berkelanjutan untuk Meningkatkan Ekonomi Lokal di Kabupaten Klaten. Jurnal Manajemen Pembangunan Daerah. 2026;19(1):1-6. doi: https://doi.org/10.29244/3be0zm63
- Saraswati W, Hadiyatno D, Karlinda Sari D. Peran pengabdian pada masyarakat dalam pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (umkm). jamie. 2025;7(2). doi: https://doi.org/10.36277/jamie.v7i2.557
- Arvitio C. Peran UMKM dalam Perekonomian Indonesia. 2023;. doi: https://doi.org/10.31219/osf.io/ynerm
- Kasnawati K, Demmanggasa Y, Kusdiah Y, Misbahuddin M, Sriwati M. Literasi Pemanfaatan Home Industry Untuk Menunjang Pendapatan Masyarakat Desa. Jtcsa. 2023;3(3):55-60. doi: https://doi.org/10.62728/jtcsa.v3i3.509
- Prabowoputra DM, Prasetyo G, Pasha M, Nurhidayat ARS, Lenggana BW, Yani ARSPA. Peningkatan kualitas produk industri rumah tangga black garlic melalui alat fermentasi efisien dan kemasan modern. Jai. 2026;13(1):566-575. doi: https://doi.org/10.29303/abdiinsani.v13i1.3446
- Dewi IN, Romli O, Khaerudin D. Invetarisasi Tantangan Pada Usaha Industri Rumahan (Home Industry) Kerupuk Ikan Laut Binaan BUMDes di Desa Tanara, Kabupaten Serang. Open Community Service Journal. 2025;4(2):155-161. doi: https://doi.org/10.33292/ocsj.v4i2.152
- Pembengo W, Rahim Y. Peningkatan ekonomi masyarakat melalui program usaha minatani di desa bunggalo kecamatan telaga jaya kabupaten gorontalo. Sibermas. 2022;11(6):1308-1320. doi: https://doi.org/10.37905/sibermas.v11i6.13000
- Rofiatin UR, Pudjiastuti AQ, Suhudi S. Pemberdayaan Industri Rumahan Dusun Tungu Desa Kayangan Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang. Jast. 2023;7(2):166-178. doi: https://doi.org/10.33366/jast.v7i2.5508
- Masriah S, Herdiana D, Kurniawan MI. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Home Industry Tahu. Tamkin: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam. 2024;9(4):447-466. doi: https://doi.org/10.15575/tamkin.v9i4.30873
- Rahman H. Analisis Bibliometrik: Upaya Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia. Jpk. 2023;4(2):106-123. doi: https://doi.org/10.18196/jpk.v4i2.18211
- Rusandi, Muhammad Rusli. Merancang Penelitian Kualitatif Dasar/Deskriptif dan Studi Kasus. Aujpsi. 2021;2(1):48-60. doi: https://doi.org/10.55623/au.v2i1.18
- Ananda R, Amin M. Pelatihan Pembuatan Pengaman Pintu Ruko dengan Kendali Android di CV Rifanta Tanjungbalai. Jpstm. 2022;1(2):141-146. doi: https://doi.org/10.54314/jpstm.v1i2.755
- Noor M. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. Civis. 2024;13(1). doi: https://doi.org/10.26877/civis.v13i1
- Abdjul T, Katili N. Pemberdayaan Usaha Ekonomi Produktif Bagi Masyarakat Miskin Melalui Penerapan Program Desa Membangun Dalam Pencapaian SDGs Di Desa Diloato Dan Desa Bongo Tua Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo. Sibermas. 2022;11(1):101-111. doi: https://doi.org/10.37905/sibermas.v11i1.12071
- Sulaiman A, Avianto BN, Muksin A, Zulfikar I. Strategi Membangun Ketahanan Home Industry Unggulan Pariwisata di Destinasi Super Prioritas Mandalika. Asset. 2021;4(1). doi: https://doi.org/10.24269/asset.v4i1.3870
- Soolany C, Setiabudhi H, Syafi'ah, Sumarmono J. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan Penyusunan Proposal Bisnis Berbasis Teknologi Tepat Guna untuk Meningkatkan Akses Pembiayaan Usaha Mikro di Desa Bojong. Abd. 2026;11(1):73-81. doi: https://doi.org/10.31942/abd.v11i1.14222
- Rahmadanik D. Peran bumdes dalam pemberdayaan masyarakat desa cokrokembang kecamatan ngadirojo kabupaten pacitan. Jpap. 2018;4(1). doi: https://doi.org/10.30996/jpap.v4i1.1293
- Aulia M, Hendratni TWH, Nisa C, Kaniati R. Pengaruh keterbatasan uang saku dan penggunaan paylater terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa dengan literasi keuangan sebagai variabel moderasi. Jimp. 2026;6(1):36-51. doi: https://doi.org/10.65179/jimp.2026.9840
- Jamaludin A. Pengaruh hasil belajar mahasiswa dalam matakuliah pengantar manajemen dan manajemen pemasaran terhadap hasil belajar matakuliah konsultan manajemen pemasaran pada mahasiswa stie ypbi jakarta periode 2006 – 2010. econosains. 2012;10(1):15-26. doi: https://doi.org/10.21009/econosains.0101.02