Home>Article>10.58920/kolmas0201564

RESEARCH ARTICLE

Pemberdayaan Masyarakat melalui Home Industry Sirup Parijotho Argo Mulyo dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus

Nur Lailatul Afiyah

Academic Editor: Syaputra Artama

1
1
0
Crossmark
  • Received

    Jan 22, 2026
  • Revised

    Apr 28, 2026
  • Accepted

    Jun 10, 2026
  • Published

    Jun 28, 2026

Abstract

This study analyzes the community empowerment process and its impact on welfare through the Argo Mulyo Parijotho Syrup Home Industry in Colo Village, Kudus. Employing a qualitative approach, data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving the business owner, employees, farmers, and traders. The results indicate that the empowerment process occurs in three stages: awareness, capacity building, and independence. Utilizing Parijotho fruit provides economic value-added, enhances skills, and strengthens social participation. The impact of this empowerment is reflected in increased income, job creation, and market certainty for farmers. Nevertheless, the program still faces constraints regarding business scale, marketing, and the level of community independence. Therefore, sustained support—through management training, access to capital, product innovation, and the strengthening of marketing networks—is essential to ensure the long-term sustainability of this local potential-based empowerment program.

Local Abstract: Penelitian ini menganalisis proses pemberdayaan masyarakat dan dampaknya terhadap kesejahteraan melalui Home Industry Sirup Parijotho Argo Mulyo di Desa Colo, Kudus. Menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap pemilik usaha, karyawan, petani, serta pedagang. Hasil penelitian menunjukkan proses pemberdayaan berlangsung melalui tiga tahap: penyadaran, pembinaan, dan kemandirian. Pemanfaatan buah Parijotho memberikan nilai tambah ekonomi, meningkatkan keterampilan, dan memperkuat partisipasi sosial masyarakat. Dampak pemberdayaan terlihat dari peningkatan pendapatan, perluasan lapangan kerja, dan kepastian pasar bagi petani. Meskipun demikian, program ini masih menghadapi kendala pada skala usaha, pemasaran, dan tingkat kemandirian. Oleh karena itu, diperlukan dukungan berkelanjutan berupa pelatihan manajemen, akses modal, inovasi produk, dan penguatan jaringan pemasaran guna menjamin keberlanjutan pemberdayaan berbasis potensi lokal.

Pendahuluan

Ketimpangan kesejahteraan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan masih menjadi permasalahan penting dalam pembangunan, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Keterbatasan akses terhadap peluang ekonomi, rendahnya produktivitas, serta belum optimalnya pemanfaatan sumber daya lokal menyebabkan masyarakat pedesaan cenderung memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan masyarakat perkotaan (1, 2). Oleh karena itu, pendekatan pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi penting untuk meningkatkan kapasitas ekonomi lokal dan mendorong kemandirian masyarakat secara berkelanjutan (3, 4).

Salah satu strategi yang dapat dilakukan dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat adalah melalui pengembangan usaha kecil dan menengah, termasuk home industry berbasis potensi lokal. Usaha tersebut memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan (4, 5). Dalam konteks ini, Desa Colo di Kabupaten Kudus memiliki potensi lokal berupa buah Parijotho yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Sebelum diolah menjadi produk bernilai tambah, buah Parijotho umumnya dijual dalam bentuk mentah dengan nilai ekonomi rendah dan daya simpan terbatas, sehingga belum memberikan kontribusi maksimal terhadap kesejahteraan masyarakat (6, 7)

Secara konseptual, pemberdayaan masyarakat merupakan proses yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas, partisipasi, dan kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya yang dimiliki (8, 9). Sementara itu, kesejahteraan masyarakat tidak hanya diukur dari aspek ekonomi semata, tetapi juga mencakup dimensi multidimensional seperti kesempatan kerja, partisipasi sosial, serta kualitas hidup masyarakat (10). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara pemberdayaan masyarakat dan kesejahteraan bersifat kompleks dan melibatkan berbagai aspek sosial dan ekonomi.

Meskipun sejumlah penelitian telah mengkaji peran pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan pedesaan, sebagian besar studi masih berfokus pada hasil ekonomi tanpa mengkaji secara mendalam proses pemberdayaan yang terjadi (10, 11). Selain itu, masih terbatas penelitian yang secara simultan mengkaji proses pemberdayaan dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat berbasis potensi lokal. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan menganalisis secara komprehensif proses dan dampak pemberdayaan masyarakat melalui home industry berbasis sumber daya lokal.

Berdasarkan latar belakang tersebut, pertanyaan penelitian dalam studi ini adalah: (1) bagaimana proses pemberdayaan masyarakat melalui home industry sirup Parijotho di Desa Colo, dan (2) bagaimana proses tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pemberdayaan serta dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat dengan menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan model pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal di wilayah pedesaan.

Metodologi Penelitian

Desain Penelitian dan Rasional

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai proses dan dampak pemberdayaan masyarakat melalui home industry Sirup Parijotho Argo Mulyo di Desa Colo, Kabupaten Kudus. Pendekatan studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti mengeksplorasi fenomena sosial secara kontekstual dalam lingkungan nyata, khususnya dalam memahami dinamika pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal (12). Penelitian ini tidak bertujuan menguji hubungan kausal secara kuantitatif, melainkan menganalisis proses, interaksi sosial, serta makna yang muncul dari praktik pemberdayaan masyarakat.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, dengan fokus pada aktivitas produksi dan pemasaran Home Industry Sirup Parijotho Argo Mulyo. Pemilihan lokasi didasarkan pada potensi lokal berupa buah Parijotho serta keberadaan home industry yang melibatkan masyarakat secara langsung. Pengumpulan data dilakukan selama enam bulan, yang terdiri dari observasi pendahuluan pada September–November 2022 dan pengumpulan data utama pada Maret–Mei 2023. Rentang waktu ini memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif terhadap proses pemberdayaan yang berlangsung.

Subjek Penelitian dan Teknik Sampling

Informan penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan keterlibatan langsung dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat (9). Informan terdiri dari pemilik home industry (1 orang), pekerja (5 orang), petani pemasok bahan baku (3 orang), dan konsumen (3 orang), sehingga total informan berjumlah 12 orang. Kriteria pemilihan informan meliputi: (1) memiliki keterlibatan langsung dalam aktivitas home industry, (2) memiliki pengalaman minimal satu tahun, dan (3) bersedia memberikan informasi secara terbuka. Proses pengumpulan data dilakukan hingga mencapai titik kejenuhan (data saturation), yaitu ketika informasi yang diperoleh telah berulang dan tidak ditemukan data baru yang signifikan.

Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam semi-terstruktur, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara langsung terhadap seluruh proses produksi, mulai dari pengadaan bahan baku hingga pemasaran, untuk memahami praktik pemberdayaan masyarakat secara empiris. Wawancara dilakukan dengan durasi 30–60 menit per informan dan direkam menggunakan perangkat digital dengan persetujuan informan. Data wawancara kemudian ditranskripsikan secara verbatim untuk menjaga keakuratan data. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi dan memverifikasi data, yang meliputi foto kegiatan, catatan usaha, serta arsip terkait.

Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan analisis tematik melalui tahapan reduksi data, pengkodean (coding), kategorisasi, dan penarikan tema utama. Pendekatan ini digunakan untuk mengidentifikasi pola, hubungan, dan makna yang muncul dari data lapangan secara sistematis (7). Analisis difokuskan pada tema-tema utama seperti proses pemberdayaan, dampak ekonomi, serta partisipasi masyarakat dalam kegiatan usaha.

Keabsahan Data

Keabsahan data dijaga melalui teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai informan (pemilik home industry, pekerja, petani, dan konsumen), sedangkan triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selain itu, dilakukan member checking dengan mengonfirmasi kembali hasil wawancara kepada informan untuk memastikan kesesuaian antara interpretasi peneliti dan data lapangan (10).

Refleksivitas Peneliti

Penelitian ini juga mempertimbangkan refleksivitas peneliti, yaitu kesadaran terhadap potensi bias subjektif dalam proses pengumpulan dan analisis data. Untuk meminimalkan bias, peneliti melakukan pencatatan lapangan secara sistematis serta verifikasi data secara berulang.

Operasionalisasi Konsep Kesejahteraan

Dalam penelitian ini, kesejahteraan masyarakat dioperasionalisasikan melalui beberapa indikator, yaitu peningkatan pendapatan, penyerapan tenaga kerja, stabilitas ekonomi petani, serta partisipasi sosial dalam kegiatan ekonomi lokal. Pemberdayaan masyarakat dipahami sebagai proses multidimensi yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan kelembagaan yang saling berkaitan (10). Selain itu, pengembangan usaha lokal juga dipandang sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan (13).

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki keterbatasan pada durasi penelitian yang relatif terbatas dalam mengamati dampak jangka panjang pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, hasil penelitian bersifat kontekstual dan memerlukan penelitian lanjutan dengan pendekatan kuantitatif atau longitudinal untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif.

Hasil Penelitian

Proses Pemberdayaan Masyarakat

Proses pemberdayaan masyarakat melalui Home Industry Sirup Parijotho Argo Mulyo berlangsung melalui tahapan penyadaran, pembinaan, dan kemandirian. Pada tahap penyadaran, pemanfaatan buah Parijotho sebagai bahan baku utama menjadi langkah awal dalam meningkatkan nilai ekonomi produk. Kondisi buah Parijotho sebelum diolah ditunjukkan pada Gambar 1, yang memperlihatkan bahan baku masih dalam bentuk mentah dan mudah mengalami penurunan kualitas apabila tidak segera diolah. Hal ini dijelaskan oleh Bapak Sumarlan:

“Awalnya saya melihat bahan baku dari buah Parijotho itu habis setiap malam itu atau setelah hari itu selang berapa hari kalau nggak laku kan layu mbk, itu cuma dibuang sia-sia. Habis itu, setelah saya melihat bahan baku yang kebuang sia-sia, saya berfikir Apakah bisa diubah menjadi olahan yang bisa kita manfaatkan atau nggak. Nah dari situ, terus kita coba-coba bikin sirup dari bahan baku buah Parijotho.” - Bapak Sumarlan.

Gambar 1. Buah Parijotho sebagai Bahan Baku Produksi.

Temuan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat berawal dari optimalisasi potensi lokal yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi maksimal. Pemanfaatan buah Parijotho sebagai bahan baku sirup tidak hanya mengurangi pemborosan hasil panen, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis potensi lokal mampu mendorong perubahan fungsi masyarakat dari penerima manfaat pasif menjadi pelaku aktif dalam kegiatan ekonomi produktif, sebagaimana dijelaskan dalam konsep pemberdayaan berbasis potensi lokal (14).

Tahap pembinaan dilakukan melalui keterlibatan langsung masyarakat dalam proses produksi. Proses awal produksi ditunjukkan pada Gambar 2A yang memperlihatkan kegiatan pencucian buah Parijotho sebagai tahap awal pengolahan. Selanjutnya, proses penghalusan bahan baku menggunakan blender ditunjukkan pada Gambar 2B. Setelah itu, dilakukan proses penyaringan untuk memisahkan sari buah dari ampas, sebagaimana terlihat pada Gambar 2C.

Gambar 2. Tahapan pembuatan sirup buah parijotho: (A) Proses pencucian buah parijotho, (B) Proses penghalusan buah parijotho menggunakan blender, (C) Proses penyaringan sari buah parijotho, (D) Proses pengemasan sirup parijotho, dan (E) Penempelan label produk sirup parijotho.

Keterlibatan masyarakat dalam proses ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga mempercepat pemahaman melalui praktik langsung. Hal ini diungkapkan oleh Sumarlan:

“Saya mengajarkan kepada mereka seperti saat saya akan membuat sirup Parijotho… jadi saya mengajari mereka mulai dari pemilihan bahan baku, proses pembuatan sirup bahkan saya suruh buat memasarkan produk ke dinas.” - Bapak Sumarlan.

Proses ini menunjukkan bahwa home industry tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran sosial bagi masyarakat. Keterlibatan langsung masyarakat dalam proses produksi dan pemasaran memberikan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan teknis, pengetahuan usaha, serta pengalaman dalam pengelolaan produk lokal. Selain meningkatkan kapasitas individu, proses pembinaan tersebut juga memperkuat partisipasi masyarakat dalam aktivitas ekonomi produktif sehingga mendukung terciptanya pemberdayaan yang lebih berkelanjutan (15).

Tahap selanjutnya adalah proses pengemasan produk. Gambar 2D menunjukkan proses pengisian sirup ke dalam botol, sedangkan Gambar 2E menunjukkan produk akhir yang telah dikemas dan siap dipasarkan.

Selain proses produksi, pembinaan juga mencakup aspek pemasaran yang dilakukan secara fleksibel melalui jaringan sosial. Hal ini dijelaskan oleh Bapak Sumarlan:

“Soal penjualan biasanya dari teman-teman yang minta, kadang mereka juga yang post dagangan, bahkan sering kalau ada pameran atau bazar gitu, temen-temen minta produk sekian gitu ya saya kasih tak suruh bawa aja dulu.” - Bapak Sumarlan.

Hal ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran berbasis jaringan sosial memiliki peran penting dalam memperluas jangkauan pemasaran produk home industry. Pemanfaatan relasi sosial, kegiatan bazar, dan promosi informal melalui masyarakat tidak hanya membantu meningkatkan penjualan produk, tetapi juga memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengembangan usaha lokal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh proses produksi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam membangun jejaring pemasaran dan kerja sama sosial untuk mendukung keberlanjutan usaha (16).

Dampak terhadap Kesejahteraan Masyarakat

Dampak pemberdayaan masyarakat melalui Home Industry Sirup Parijotho Argo Mulyo terlihat dari peningkatan kesejahteraan masyarakat, baik dari aspek ekonomi maupun sosial.

Dari aspek ekonomi, peningkatan pendapatan terlihat jelas terutama pada petani dan pelaku usaha. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Sumarlan:

“Hasil dari sirup Parijotho di desa Colo itu banyak, paling banyak justru bagi para petani buah Parijotho dan pedagang… Kalau saya dirata-rata perbulan 5-6 juta itu kotor kalau bersih ya sekitar 3 jutaan. Kalau petani Parijotho itu rata-rata perhari sekitar 500 ribu rupiah.” - Bapak Sumarlan.

Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan UMKM berbasis home industry memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, terutama melalui peningkatan pendapatan masyarakat yang terlibat dalam rantai produksi dan distribusi. Peningkatan pendapatan petani, pedagang, dan pelaku usaha menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi lokal mampu menciptakan nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan penjualan bahan mentah secara langsung. Selain itu, kondisi ini juga mengindikasikan bahwa pemberdayaan masyarakat berbasis usaha lokal dapat memperkuat stabilitas ekonomi masyarakat pedesaan secara bertahap (17).

Dari sisi tenaga kerja, keberadaan home industry memberikan peluang kerja bagi masyarakat lokal. Hal ini disampaikan oleh salah satu karyawan:

“Alhamdulillah, adanya Home Industry Argo Mulyo ini saya bisa bekerja, sulit kalau lulusan SMA saja mbak, jadi saya bersyukur bisa bekerja disini.” - Karyawan Home Industry.

Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui home industry turut berperan dalam meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat lokal, khususnya bagi masyarakat dengan keterbatasan akses pekerjaan. Keberadaan usaha ini tidak hanya membuka peluang kerja, tetapi juga memberikan rasa aman secara ekonomi bagi masyarakat sekitar. Selain membantu mengurangi pengangguran, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan usaha lokal menunjukkan bahwa pemberdayaan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonomi secara mandiri dan berkelanjutan (18).

Selain itu, dari sisi petani dan pedagang, keberadaan home industry memberikan kepastian pasar terhadap hasil panen. Hal ini diungkapkan oleh salah satu pedagang sekaligus petani:

“Dulu sebelum pak Lan buat sirup Parijotho, buah Parijotho itu dijual seperti ini… kalau enggak laku terlalu lama ya layu terus dibuang gitu aja… Tapi syukur Alhamdulillah, setelah pak Lan mengenalkan sirup Parijotho pada masyarakat lokal desa Colo banyak masyarakat lokal yang ikut mengolah menjadi produk. ” - Pedagang/Petani.

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya lokal melalui proses produksi yang terstruktur mampu meningkatkan nilai tambah produk serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Pemanfaatan buah Parijotho yang sebelumnya memiliki nilai jual rendah menjadi produk olahan sirup menunjukkan bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi produktif bagi masyarakat pedesaan. Temuan ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal secara mandiri dan berkelanjutan.

Keterlibatan masyarakat dalam proses produksi dan pemasaran menunjukkan adanya pemberdayaan yang bersifat partisipatif, di mana masyarakat tidak hanya menjadi objek tetapi juga subjek dalam kegiatan ekonomi. Melalui keterlibatan langsung tersebut, masyarakat memperoleh pengalaman, keterampilan, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi lokal. Kondisi ini sejalan dengan konsep pemberdayaan masyarakat yang menekankan peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan (19, 20).

Selain memberikan dampak ekonomi berupa peningkatan pendapatan dan terbukanya lapangan kerja, home industry Sirup Parijotho Argo Mulyo juga memberikan dampak sosial berupa meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan usaha lokal. Kepastian pasar bagi petani dan pedagang menunjukkan bahwa keberadaan usaha lokal mampu menciptakan hubungan ekonomi yang saling mendukung antaranggota masyarakat lokal.

Meskipun demikian, tingkat kemandirian masyarakat masih berada pada tahap berkembang dan belum sepenuhnya optimal. Keterbatasan dalam skala usaha, pemasaran, dan pengembangan produk menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat masih memerlukan dukungan lanjutan, baik melalui pelatihan, akses permodalan, maupun penguatan jaringan pemasaran. Oleh karena itu, kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Kesimpulan

Pemberdayaan masyarakat melalui Home Industry Sirup Parijotho Argo Mulyo berbasis potensi lokal terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal Desa Colo melalui proses penyadaran, pembinaan, dan kemandirian. Pemanfaatan buah Parijotho sebagai bahan baku memberikan nilai tambah ekonomi, sementara keterlibatan masyarakat dalam produksi dan pemasaran meningkatkan keterampilan serta partisipasi dalam kegiatan ekonomi. Dampak yang dihasilkan meliputi peningkatan pendapatan, terbukanya lapangan kerja, dan adanya kepastian pasar bagi petani dan pedagang. Namun demikian, skala usaha yang masih terbatas dan tingkat kemandirian masyarakat yang belum optimal menunjukkan perlunya dukungan lanjutan agar pemberdayaan dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan dampak yang lebih luas.

Declarations

Conflict of Interest

The author declares no conflicting interest.

Data Availability

All data generated or analyzed during this study are included in this published article.

Ethics Statement

Ethical approval was not required for this study.

Funding Information

The author(s) declare that no financial support was received for the research, authorship, and/or publication of this article.

References

  1. Adisasmita R. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan. Yogyakarta: Graha Ilmu; 2006.
  2. Sukhemi S, Maisaroh S. Pembentukan model pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan budaya kewirausahaan untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan. jiak. 2019;8(1):31-38. doi: https://doi.org/10.32639/jiak.v8i1.284
  3. Nawira A. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Home Industry Kain Sutera Di Kabupaten Wajo. . Universitas Muhammadiyah Makassar; 2021.
  4. Indahsari K. Urgensi perencanaan partisipatif dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat desa (studi kasus pemberdayaan kelompok perempuan desa pendabah). Mediatrend. 2020;15(1):123-132. doi: https://doi.org/10.21107/mediatrend.v15i1.6196
  5. Anwas OM. Kuliah Kerja Nyata Tematik Pos Pemberdayaan Keluarga Sebagai Model Pengabdian Masyarakat Di Perguruan Tinggi. Jpnk. 2011;17(5):565-575. doi: https://doi.org/10.24832/jpnk.v17i5.49
  6. Suyanto S, Pudjianto B. Pemberdayaan masyarakat menuju desa sejahtera (studi kasus di kabupaten sragen). Ska. 2015;5(1). doi: https://doi.org/10.33007/ska.v5i1.164
  7. Syaifudin A. Analisis Strategi Untuk Pengembangan Usaha Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Gresik Jawa Timur. ecobuss. 2022;10(1):41-46. doi: https://doi.org/10.51747/ecobuss.v10i1.919
  8. Fawaid A, Fatmala E. Home industry sebagai strategi pemberdayaan usaha mikro dalam meningkatkan financial revenues masyarakat. Aq. 2020;14(1):109. doi: https://doi.org/10.35931/aq.v14i1.342
  9. Endang murti E. Strategi pengembangan usaha mikro dan pembangunan ekonomi desa di desa baderan kecamatan geneng kabupaten ngawi. j. sosial. j. penelit. ilmu. ilmu. sosial. 2022;23(2):39-48. doi: https://doi.org/10.33319/sos.v23i2.128
  10. Sa’adah L. Metode penelitian ekonomi dan bisnis. Lppm Universitas Kh. A. Wahab Hasbullah.; 2021.
  11. Arikunto S. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta. Jakarta; 2013.
  12. Rijali A. Analisis data kualitatif. alhadharah. 2019;17(33):81. doi: https://doi.org/10.18592/alhadharah.v17i33.2374
  13. Winarni T. Memahami Pemberdayaan Masyarakat Desa Partisipatif dalam Orientasi Abad 21: Menuju Pemberdayaan Pelayanan Masyarakat. Yogyakarta: Adita Media.; 1998.
  14. Suminartini S, Susilawati S. Pemberdayaan masyarakat melalui bidang usaha home industry dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. J. Community Education. 2020;3(3):226. doi: https://doi.org/10.22460/comm-edu.v3i3.3340
  15. Dwinarko D, Sulistyanto A, Widodo A, Mujab S. Pelatihan Manajemen Komunikasi pada Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat. Jpm. 2021;1(4):217-225. doi: https://doi.org/10.35912/yumary.v1i4.314
  16. Indahsari K. Urgensi perencanaan partisipatif dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat desa (studi kasus pemberdayaan kelompok perempuan desa pendabah). Mediatrend. 2020;15(1):123-132. doi: https://doi.org/10.21107/mediatrend.v15i1.6196
  17. Faissyah RNur. Pemberdayaan Maasyarakat Melalui Usaha Home Industry Kripik Kentang di Desa Penanggungan Kecamatan Wanayasa Kabupaten Banjarnegara. IAIN Purwokerto ; 2020.
  18. Fawaid A, Fatmala E. Home industry sebagai strategi pemberdayaan usaha mikro dalam meningkatkan financial revenues masyarakat. Aq. 2020;14(1):109. doi: https://doi.org/10.35931/aq.v14i1.342
  19. Dwinarko, Sulistyanto A, Saeful Mujab. Pelatihan Manajemen Komunikasi Pemasaran Bagi Usaha Menengah Kecil Masyarakat Dalam Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat. ABDIKAN: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi. 2022;1(1):10-18. doi: https://doi.org/10.55123/abdikan.v1i1.84
  20. Muhtadi M. Pemberdayaan ekonomi perempuan melalui home industry batik di desa sendang duwur kecamatan paciran kabupaten lamongan. taghyir. 2019;1(2):121-135. doi: https://doi.org/10.24952/taghyir.v1i2.1344